Iklan

Ketika Kampus Inklusif Tidak Berhenti di Pintu Masuk : Cerita Pendampingan Mahasiswa Tuli di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Tim Ruang Kita memperkenalkan SITAMA, SIPANDU, tata cara pendaftaran Ujian Bahasa dan Ujian Tahsin dan Tahfidz Al-Qur’an

Ketahuilah.com | Jambi - Pendidikan inklusif tidak cukup diwujudkan hanya dengan membuka pintu masuk bagi penyandang disabilitas. Komitmen sesungguhnya dimulai ketika mereka telah menjadi bagian dari lingkungan akademik dan memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, serta meraih prestasi. Prinsip inilah yang terus diupayakan Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi melalui berbagai bentuk pendampingan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Hingga saat ini, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi masih menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Provinsi Jambi yang membuka jalur penerimaan mahasiswa baru khusus bagi penyandang disabilitas. Kebijakan yang mulai diterapkan sejak 2020 tersebut menjadi bukti nyata komitmen universitas dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif, adil, dan setara bagi seluruh masyarakat.

Selama lima tahun terakhir, sebanyak 30 mahasiswa penyandang disabilitas telah menempuh pendidikan di kampus ini. Dari jumlah tersebut, mahasiswa Tuli menjadi kelompok terbanyak. Kehadiran mereka tidak hanya mencerminkan semakin terbukanya akses pendidikan tinggi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa inklusivitas harus diwujudkan dalam seluruh proses pembelajaran, bukan berhenti pada tahap penerimaan mahasiswa baru.

Tantangan yang Tidak Selalu Terlihat

Bagi sebagian besar mahasiswa Tuli, Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) merupakan bahasa pertama yang paling dikuasai. Sementara itu, hampir seluruh aktivitas akademik di perguruan tinggi menggunakan bahasa Indonesia, baik dalam buku ajar, materi perkuliahan, instruksi tugas, maupun komunikasi administratif.

Perbedaan struktur antara BISINDO dan bahasa Indonesia membuat sebagian mahasiswa Tuli memerlukan waktu lebih lama untuk memahami bacaan akademik, menafsirkan instruksi dosen, hingga menyusun tugas dalam bahasa Indonesia.

Kendala tersebut semakin terasa ketika dosen memberikan instruksi yang panjang atau menggunakan istilah-istilah akademik yang belum familier. Dalam situasi seperti itu, mahasiswa sering kali harus meminta bantuan teman sekelas atau relawan pendamping untuk menjelaskan kembali maksud tugas yang diberikan. Akibatnya, proses memahami instruksi menjadi lebih panjang dan penyelesaian tugas pun kerap tertunda.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berbicara tentang akses masuk ke perguruan tinggi, tetapi juga tentang bagaimana kampus memastikan setiap mahasiswa memperoleh akses terhadap informasi yang mudah dipahami sehingga mampu belajar secara mandiri.

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), muncul peluang baru untuk menjawab tantangan tersebut.

Tim Ruang Kita memberikan pendampingan personal berupa praktik langsung penggunaaan prompt AI

AI sebagai Pendamping Belajar

Melalui Program Kukerta Rekognisi, para volunter difabel yang berada di bawah naungan Pusat Gender, Anak, dan Disabilitas UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi menghadirkan sebuah program pendampingan yang memanfaatkan teknologi AI sebagai alat bantu belajar bagi mahasiswa Tuli.

Program ini tidak sekadar mengenalkan berbagai aplikasi berbasis AI. Fokus utamanya adalah membekali mahasiswa dengan kemampuan menyusun prompt atau instruksi yang tepat agar AI mampu memberikan penjelasan yang lebih sederhana, mudah dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Selama kurang lebih 40 hari, para volunter mendampingi mahasiswa Tuli melalui rangkaian pelatihan yang dirancang secara sistematis. Sebelum kegiatan dimulai, Dosen Pembimbing Lapangan, Agus Slamet Nugroho, M.I.Kom., mengajak seluruh volunter berdiskusi untuk menyusun strategi, membagi tugas, serta merancang metode pendampingan yang efektif. Arahan tersebut menjadi fondasi dalam pelaksanaan seluruh program.

Empat Tahap Pendampingan

Program pendampingan disusun dalam empat sesi yang saling berkaitan.

Sesi pertama berfokus pada pengenalan konsep dasar AI serta pentingnya menyusun prompt yang efektif.

Pada sesi kedua, mahasiswa mulai mempraktikkan penggunaan berbagai platform AI dengan pendampingan langsung dari para volunter.

Sesi ketiga memperkenalkan teknologi pendukung aksesibilitas, seperti aplikasi speech-to-text, penggunaan live subtitle pada Zoom dan Google Meet, sekaligus praktik penggunaannya dalam situasi perkuliahan.

Sementara itu, sesi terakhir diarahkan untuk membantu mahasiswa memahami berbagai layanan akademik kampus, mulai dari SITAMA, SIPANDU, prosedur pendaftaran Ujian Bahasa, hingga Ujian Tahsin dan Tahfiz Al-Qur'an.

Pada tiga sesi awal, para volunter memperkenalkan berbagai platform AI yang dapat dimanfaatkan dalam aktivitas akademik. Mahasiswa belajar menggunakan AI untuk menyederhanakan materi kuliah, membantu menyusun bahan presentasi, membaca dokumen yang diunggah, hingga menjelaskan isi bacaan menggunakan bahasa yang lebih sederhana.

Namun, yang paling ditekankan bukanlah kemampuan menggunakan AI semata, melainkan kemampuan menyusun prompt yang efektif.

Mahasiswa diajak memahami bahwa kualitas jawaban AI sangat bergantung pada kualitas pertanyaan yang diberikan.

Mereka kemudian berlatih menyusun berbagai bentuk prompt, misalnya:

"Jelaskan paragraf ini menggunakan bahasa Indonesia yang sederhana karena saya adalah mahasiswa Tuli yang kesulitan memahami kalimat panjang."

Contoh lainnya ialah:

"Jelaskan materi ini seperti menjelaskan kepada anak kecil."

Latihan tersebut membantu mahasiswa memahami bahwa AI dapat memberikan jawaban yang jauh lebih relevan apabila diberi konteks mengenai kebutuhan penggunanya.

Pendampingan yang Lebih Personal

Memasuki sesi berikutnya, pendekatan pelatihan berubah menjadi lebih personal. Setiap volunter mendampingi satu mahasiswa Tuli sehingga proses belajar berlangsung lebih intensif.

Model pendampingan individual memungkinkan mahasiswa mencoba berbagai variasi prompt, mengevaluasi jawaban AI, memperbaiki instruksi yang diberikan, hingga memperoleh hasil yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan akademik mereka.

Dalam praktiknya, proses pendampingan tidak selalu berjalan mulus. Beberapa istilah akademik sulit dijelaskan melalui bahasa isyarat atau belum dikenal oleh mahasiswa.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, para volunter memanfaatkan aplikasi speech-to-text. Penjelasan yang diucapkan secara lisan langsung diubah menjadi teks sehingga mahasiswa dapat membaca informasi secara real time.

Pendekatan sederhana ini terbukti membantu memperjelas komunikasi sekaligus mempercepat proses pembelajaran.

Selain keterampilan teknis, pelatihan juga menanamkan kesadaran bahwa AI bukanlah sumber kebenaran mutlak. Mahasiswa diajak membandingkan jawaban AI dengan sumber lain, memverifikasi informasi, serta menggunakan kemampuan berpikir kritis sebelum memanfaatkan hasil yang diberikan.

Pesan tersebut mendapat tanggapan menarik dari salah seorang mahasiswa Tuli, Zaki.

Melalui bahasa isyarat, ia menceritakan pernah meminta AI membuat resep makanan yang sedang viral. Setelah mengikuti seluruh langkah yang diberikan, hasil masakannya justru tidak sesuai harapan.

Pengalaman sederhana tersebut menjadi ilustrasi bahwa literasi AI tidak berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi, melainkan juga mencakup kemampuan menyusun pertanyaan yang tepat, mengevaluasi jawaban, dan memahami keterbatasan teknologi itu sendiri.

Dari Volunter untuk Teman Tuli

Agar manfaat program tetap berlanjut setelah Kukerta Rekognisi berakhir, para volunter tidak berhenti pada kegiatan tatap muka.

Mereka menyusun berbagai video tutorial mengenai penggunaan aplikasi AI, teknologi pendukung aksesibilitas, hingga panduan langkah demi langkah dalam menyusun prompt yang efektif.

Seluruh materi dikemas menggunakan bahasa yang sederhana, visual yang mudah dipahami, serta contoh-contoh yang dekat dengan aktivitas perkuliahan mahasiswa Tuli. Dengan demikian, mahasiswa dapat mempelajari kembali materi kapan saja tanpa harus bergantung pada kehadiran volunter.

Program ini menunjukkan bahwa teknologi akan memberikan manfaat maksimal apabila diiringi dengan pendampingan yang tepat. AI memang mampu membantu menjembatani kesenjangan akses informasi, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta kepedulian manusia yang mendampingi proses tersebut.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan inklusif tidak diukur semata dari banyaknya mahasiswa penyandang disabilitas yang diterima di perguruan tinggi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan mereka memiliki kesempatan yang sama untuk memahami materi perkuliahan, menyelesaikan tugas secara mandiri, mengakses layanan akademik tanpa hambatan, dan memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijaksana.

Di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, inklusivitas tidak berhenti di gerbang kampus. Ia hadir dalam ruang-ruang belajar, dalam setiap proses pendampingan, dan dalam keyakinan bahwa setiap mahasiswa, tanpa terkecuali, berhak memperoleh kesempatan yang setara untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan.