Iklan

Ma’hadisasi Bukan Sekadar Asrama: Meneguhkan Ruh PTKIN dan Menyiapkan Generasi Masa Depan : UIN STS Jambi dan Jalan Panjang Melahirkan Generasi Unggul, Berakhlak, Berilmu, dan Berdampak


Oleh: Dr. Pahmi Sy S.Ag., M.Si.
Wakil Rektor II UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Ketahuilah.com | Pendidikan - Ada satu pertanyaan mendasar yang patut diajukan ketika perguruan tinggi berbicara tentang keunggulan: apa yang sesungguhnya membedakan sebuah perguruan tinggi dari yang lain?

Apakah hanya akreditasi? Peringkat? Jumlah publikasi? Gedung yang megah? Atau banyaknya program studi yang memperoleh predikat unggul?

Semua itu penting. Tetapi bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), ada sesuatu yang jauh lebih fundamental: identitas dan karakter lulusan.

Di tengah kompetisi pendidikan tinggi yang semakin terbuka, PTKIN tidak cukup hanya berlomba menjadi perguruan tinggi yang unggul secara akademik. PTKIN harus mampu menunjukkan keunggulan yang tidak mudah ditiru oleh perguruan tinggi lain.

Di sinilah ma’hadisasi menemukan relevansinya.

Pertemuan Forum Rektor PTKIN di UIN Syekh Wasil Kediri, Jawa Timur, 26 Agustus 2026, kembali menguatkan gagasan tersebut. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Amin Suyitno, M.Ag., menegaskan pentingnya ma’hadisasi sebagai distingsi PTKIN dalam membentuk generasi yang unggul, bereputasi, berakhlak, berilmu, dan mampu memberikan dampak bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Pesan ini harus dibaca bukan sebagai instruksi administratif, melainkan sebagai arah strategis masa depan PTKIN.

Sebab, ketika hampir seluruh perguruan tinggi berbicara tentang kompetensi, teknologi, inovasi, dan daya saing, PTKIN memiliki modal yang jauh lebih khas: mengintegrasikan ilmu, iman, akhlak, dan pengabdian.

Ketika Keunggulan Tidak Lagi Cukup Diukur dari Angka

PTKIN hari ini telah mengalami transformasi yang signifikan.

Dalam forum tersebut, Prof. Dr. H. Phil Sahiron, M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa dari 59 PTKIN, sebanyak 39 telah berstatus unggul, 17 bernilai baik sekali, dan tiga bernilai baik. Dari 2.137 program studi, sebanyak 992 berstatus unggul, 620 bernilai baik sekali, dan 300 bernilai baik, di samping sejumlah program studi dengan status akreditasi lainnya.

Angka-angka tersebut memperlihatkan satu kenyataan penting: PTKIN telah bergerak jauh.

Namun, kemajuan institusional menghadirkan tantangan baru.

Ketika kualitas akademik semakin merata, maka pertanyaan berikutnya bukan lagi sekadar siapa yang unggul, tetapi siapa yang memiliki identitas paling kuat dan memberi dampak paling nyata.

Akreditasi dapat menjadi indikator mutu. Peringkat dapat menjadi indikator reputasi. Publikasi dapat menjadi indikator produktivitas ilmiah.

Tetapi akhlak, integritas, kepedulian, dan kebermanfaatan lulusan adalah wajah sesungguhnya dari sebuah institusi pendidikan.

Karena itu, PTKIN tidak boleh kehilangan jati dirinya dalam proses mengejar modernisasi.

Modern boleh.

Global harus.

Kompetitif wajib.

Tetapi identitas keislaman tidak boleh hilang.

Ma’hadisasi adalah Ruh, Bukan Sekadar Bangunan

Ma’had Al-Jami’ah sering kali dipahami secara sederhana sebagai tempat tinggal mahasiswa. Cara pandang seperti ini harus ditinggalkan.

Ma’hadisasi harus ditempatkan sebagai ekosistem pendidikan karakter.

Ma’had adalah ruang tempat ilmu bertemu dengan keteladanan. Tempat pengetahuan bertemu dengan akhlak. Tempat teori bertemu dengan praktik kehidupan.

Di sana mahasiswa dapat dibentuk melalui pembinaan Al-Qur’an, ibadah, bahasa Arab dan Inggris, moderasi beragama, kedisiplinan, kepemimpinan, literasi, budaya ilmiah, hingga pengabdian sosial.

Dengan pendekatan tersebut, ma’had bukan sekadar tempat mahasiswa tidur setelah perkuliahan selesai.

Ma’had harus menjadi tempat karakter dibangun ketika ruang kelas telah berakhir.

Di ruang kelas mahasiswa belajar tentang teori.

Di laboratorium mereka menguji pengetahuan.

Di perpustakaan mereka memperluas wawasan.

Sementara di ma’had, mereka belajar tentang bagaimana menjadi manusia.

Inilah nilai strategis ma’hadisasi.

UIN STS Jambi Harus Menemukan Distingsinya

Bagi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, ma’hadisasi harus menjadi bagian integral dari desain besar transformasi kampus.

UIN STS Jambi tidak hanya membutuhkan lulusan yang mampu bersaing di pasar kerja. Kampus membutuhkan lulusan yang mampu membawa nilai keislaman ke tengah dinamika masyarakat modern.

Karena itu, ma’hadisasi perlu diarahkan pada setidaknya enam fondasi.

Pertama, akhlakul karimah sebagai karakter utama.

Kedua, Al-Qur’an sebagai sumber nilai dan inspirasi keilmuan.

Ketiga, penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai instrumen mobilitas global.

Keempat, moderasi beragama dan kebangsaan sebagai fondasi kehidupan sosial.

Kelima, budaya riset, literasi, dan berpikir kritis sebagai tradisi akademik.

Keenam, kepemimpinan dan pengabdian sebagai bentuk nyata kebermanfaatan ilmu.

Jika enam fondasi tersebut dibangun secara konsisten, ma’hadisasi tidak lagi menjadi program pendamping pendidikan. Ia berubah menjadi identitas institusional.

Dari “Lulusan Siap Kerja” Menjadi “Lulusan Siap Memberi Solusi”

Dunia kerja berubah dengan sangat cepat.

Perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang memiliki ijazah. Mereka membutuhkan manusia yang mampu beradaptasi, berkomunikasi, bekerja dalam tim, berpikir kritis, menggunakan teknologi, dan menyelesaikan masalah.

Karena itu, mahasiswa PTKIN harus mendapatkan pengalaman nyata sebelum memasuki dunia profesional.

Kolaborasi dengan dunia usaha, dunia industri, lembaga pemerintahan, lembaga sosial, dan berbagai institusi profesional menjadi penting.

Program magang tidak boleh dipandang hanya sebagai pelengkap kurikulum. Ia merupakan jembatan antara kampus dan realitas kehidupan.

Mahasiswa perlu belajar bahwa persoalan masyarakat tidak selalu hadir dalam bentuk soal ujian.

Kemiskinan tidak memiliki pilihan ganda.

Ketimpangan sosial tidak dapat diselesaikan hanya dengan teori.

Persoalan pendidikan, ekonomi, lingkungan, teknologi, dan keagamaan membutuhkan manusia yang mampu menggabungkan ilmu dengan keberanian untuk bertindak.

Karena itu, lulusan PTKIN idealnya bukan sekadar job seeker, tetapi juga problem solver bahkan solution creator.

Ma’hadisasi dan Mimpi Go International

Keunggulan global tidak lahir secara instan.

Mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terbaik di dalam maupun luar negeri membutuhkan kemampuan bahasa, metodologi penelitian, literasi akademik, kemampuan menulis, serta keberanian berkompetisi.

Semua itu dapat mulai dibangun sejak mahasiswa berada di kampus.

Ma’hadisasi memiliki ruang yang sangat strategis untuk memperkuat budaya tersebut.

Bayangkan jika kehidupan mahasiswa di ma’had tidak hanya diisi dengan pembinaan keagamaan, tetapi juga diskusi ilmiah, pelatihan bahasa asing, penulisan artikel, kajian jurnal internasional, public speaking, penelitian kecil, hingga forum intelektual lintas disiplin.

Maka ma’had akan berubah menjadi inkubator intelektual dan karakter.

Mahasiswa tidak hanya dibentuk agar saleh secara personal, tetapi juga produktif secara intelektual dan bermanfaat secara sosial.

Inilah generasi yang dibutuhkan Indonesia.

Reputasi Kampus Sesungguhnya Dibawa oleh Lulusannya

Pada akhirnya, reputasi sebuah universitas tidak hanya dibangun oleh rektor, gedung, akreditasi, atau slogan.

Reputasi kampus berjalan bersama para alumninya.

Ketika lulusan UIN STS Jambi menjadi guru yang berintegritas, peneliti yang produktif, birokrat yang amanah, pengusaha yang jujur, profesional yang kompeten, pemimpin yang visioner, atau aktivis sosial yang bermanfaat, sesungguhnya mereka sedang membawa nama universitas ke tengah masyarakat.

Karena itu, investasi terbesar universitas bukan semata-mata pembangunan fisik.

Investasi terbesar adalah manusia.

Dan ma’hadisasi adalah salah satu ruang strategis untuk melakukan investasi tersebut.

Jangan Sampai PTKIN Kehilangan Ruh dalam Mengejar Kemajuan

Ada paradoks yang perlu kita hindari.

Jangan sampai ketika PTKIN semakin modern, identitasnya justru semakin kabur.

Jangan sampai ketika kampus semakin global, nilai-nilai lokal dan keislaman justru semakin terpinggirkan.

Jangan sampai ketika mahasiswa semakin menguasai teknologi, mereka justru kehilangan kepekaan sosial.

Dan jangan sampai ketika kita berhasil mencetak lulusan yang cerdas, kita lupa memastikan bahwa mereka juga memiliki akhlak.

Karena kecerdasan tanpa moral dapat kehilangan arah, sementara moral tanpa ilmu dapat kehilangan daya.

PTKIN memiliki tugas untuk mempertemukan keduanya.

Ilmu yang tinggi harus melahirkan kerendahan hati.

Teknologi yang maju harus melahirkan kemaslahatan.

Kebebasan berpikir harus berjalan bersama tanggung jawab.

Dan kompetisi global harus tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman.

Ma’hadisasi sebagai Investasi Peradaban

Pada titik inilah ma’hadisasi harus dipahami.

Ia bukan sekadar program asrama.

Ia bukan sekadar rutinitas pembinaan mahasiswa.

Ia bukan sekadar aktivitas tambahan di luar jam kuliah.

Ma’hadisasi adalah investasi peradaban.

Ia adalah proses panjang untuk membangun manusia yang tidak hanya mengetahui apa yang benar, tetapi juga memiliki keberanian untuk melakukan yang benar.

UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi memiliki peluang besar untuk menjadikan ma’hadisasi sebagai salah satu kekuatan utama dalam membangun distingsi kelembagaan.

Jika dikelola dengan visi yang jelas, pembinaan yang kuat, kurikulum yang relevan, sumber daya manusia yang kompeten, serta ekosistem akademik yang mendukung, Ma’had Al-Jami’ah dapat menjadi salah satu jantung transformasi UIN STS Jambi.

Kita tidak sedang membangun mahasiswa untuk menghadapi satu jenis pekerjaan.

Kita sedang menyiapkan mereka menghadapi dunia yang berubah.

Kita tidak hanya ingin mereka memperoleh gelar.

Kita ingin mereka memiliki nilai.

Kita tidak hanya ingin mereka menjadi unggul.

Kita ingin keunggulan itu memberi dampak.

Sebab pada akhirnya, pendidikan tinggi Islam tidak boleh berhenti pada pertanyaan: “Seberapa tinggi ilmu yang dimiliki seseorang?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Untuk apa ilmu itu digunakan dan siapa yang merasakan manfaatnya?”

Jika ilmu melahirkan akhlak, jika akhlak melahirkan integritas, jika integritas melahirkan kepemimpinan, dan jika kepemimpinan melahirkan kemaslahatan, maka di situlah sesungguhnya PTKIN menemukan alasan keberadaannya.

Ma’hadisasi adalah ruhnya. Identitas adalah kekuatannya. Ilmu adalah fondasinya. Akhlak adalah karakternya. Dan kebermanfaatan adalah tujuan akhirnya.

Dari UIN STS Jambi, ikhtiar itu harus terus dinyalakan: melahirkan generasi unggul, bereputasi, berakhlak, berilmu, dan benar-benar berdampak bagi umat, bangsa, dan peradaban.