Ketahuilah.com | Jambi, 14 September 2026 - Di tengah derasnya arus digitalisasi dan keterhubungan dunia yang semakin tanpa batas, menjaga identitas budaya menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Namun, kearifan lokal tidak harus berhadapan dengan teknologi. Keduanya justru dapat dipertemukan untuk melahirkan generasi yang mampu berprestasi di tingkat global tanpa kehilangan akar budayanya.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam pembukaan International Tarbiyah Championship 2026 yang diselenggarakan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, Senin (14/9/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Preserving Local Wisdom, Digital Collaboration for Global Excellence”.
Guru Besar UIN STS Jambi sekaligus Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FTK UIN STS Jambi, Prof. Dr. H. Lukman Hakim, S.Ag., M.Pd.I., mengatakan tema tersebut membawa pesan penting bahwa kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai lokal.
Menurutnya, internasionalisasi pendidikan tidak semata-mata tentang membawa institusi dan akademisi ke ruang global. Lebih dari itu, internasionalisasi juga harus mampu membawa kekayaan pengetahuan, budaya, dan kearifan lokal Nusantara untuk dikenal serta dihargai masyarakat dunia.
“Internasionalisasi nilai lokal menjadi bagian penting dari kegiatan ini. Kearifan lokal Nusantara harus terus dikenalkan dan dilestarikan agar tetap relevan dan diakui di panggung global,” ujar Prof. Lukman.
Ia menilai perkembangan teknologi digital memberikan peluang besar bagi dunia pendidikan untuk membangun kolaborasi yang lebih luas. Melalui kompetisi dan kerja sama berbasis digital, mahasiswa maupun akademisi dapat bertemu dengan berbagai perspektif dari negara lain tanpa dibatasi jarak geografis.
International Tarbiyah Championship 2026 karena itu tidak hanya diposisikan sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi akademik dan budaya. Teknologi menjadi sarana untuk mempertemukan gagasan, sementara kearifan lokal menjadi salah satu kekuatan yang dibawa ke dalam interaksi global tersebut.
Dalam pelaksanaannya, FTK UIN STS Jambi memiliki posisi penting sebagai penggerak kegiatan, mulai dari penyusunan konsep, fasilitasi kompetisi, pemanfaatan platform digital hingga membangun komunikasi dengan peserta dari berbagai latar belakang.
Peran tersebut kemudian diperkuat oleh perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri. Perguruan tinggi dalam negeri diharapkan menghadirkan talenta terbaik sekaligus mengembangkan riset yang bersumber dari kearifan lokal. Sementara perguruan tinggi luar negeri menjadi mitra untuk memperluas jaringan akademik, membuka ruang pertukaran pengetahuan, dan membangun kolaborasi lintas budaya.
Menurut Prof. Lukman, dukungan pemerintah pusat dan daerah juga tidak kalah penting. Pemerintah dapat berperan melalui kebijakan, fasilitas, apresiasi, sekaligus membantu memperkenalkan kekayaan budaya lokal sebagai bagian dari diplomasi kebudayaan Indonesia.
Di tingkat masyarakat, keberadaan mereka menjadi fondasi utama. Sebab, budaya, tradisi, nilai moral, dan berbagai bentuk kearifan lokal pada dasarnya tumbuh serta diwariskan di tengah masyarakat. Pengetahuan tersebut kemudian dapat dikembangkan melalui pendekatan akademik dan teknologi digital.
Pada akhirnya, tujuan yang ingin dicapai bukan sekadar prestasi dalam sebuah kompetisi. Prof. Lukman berharap kegiatan tersebut dapat berkontribusi melahirkan generasi “Glocal” — generasi yang mampu berpikir dan bersaing secara global, tetapi tetap memiliki identitas serta karakter lokal yang kuat.
Harapan itu semakin penting di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang mengubah berbagai aspek kehidupan. Generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi perlu memiliki kemampuan untuk menggunakannya sebagai alat menjaga dan memperkenalkan warisan budaya.
“Generasi muda tidak boleh hanyut oleh arus globalisasi. Justru teknologi dan kolaborasi digital harus dimanfaatkan untuk mengemas serta mengampanyekan warisan lokal kepada dunia,” kata Prof. Lukman.
Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat membentuk keterampilan abad ke-21, mulai dari kemampuan beradaptasi, kreativitas, kolaborasi lintas negara hingga kemampuan menghadapi berbagai persoalan global.
Lebih jauh, pendidikan yang dibangun melalui kegiatan semacam ini diharapkan tidak hanya melahirkan individu yang unggul secara intelektual dan teknologi. Ada karakter dan integritas moral yang tetap menjadi fondasi, sejalan dengan nilai-nilai ketarbiyahan dan budaya luhur.
Dari Jambi, semangat tersebut menemukan ruangnya. Kearifan lokal tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang tertinggal di masa lalu, melainkan sebagai identitas yang dapat dibawa ke masa depan melalui teknologi, pendidikan, dan kolaborasi global. International Tarbiyah Championship 2026 pun menjadi salah satu ruang untuk membuktikan bahwa berakar pada lokalitas dan berorientasi global bukanlah dua hal yang bertentangan.

