Iklan

Kabut Asap : Ini Bencana dari Tuhan atau Ulah Perbuatan Manusia?


Oleh : Adv. Mulyadi, S.H 

Ketahuilah.com | Opini - Kabut asap kembali menyelimuti Jambi, udara yang seharusnya kita hirup dengan bebas kini terasa berat, sesak. Anak-anak harus belajar dari rumah, hingga masyarakat membatasi aktivitas di luar, dan kita kembali berhadapan dengan persoalan yang seakan terus berulang setiap musim kemarau.

Lalu muncul sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi penting untuk kita renungkan:

Ini bencana dari Tuhan atau Ulah perbuatan manusia?

Sebagai manusia yang beriman, tentu kita percaya bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan. Hujan yang tidak turun, kemarau yang panjang, angin yang berembus, semuanya berada dalam kekuasaan-Nya.

Tetapi apakah kemudian setiap kabut asap harus kita anggap semata-mata sebagai bencana dari Tuhan?

Menurut saya, tidak demikian.

Karena hutan tidak terbakar dengan sendirinya tanpa sebab. Ada faktor alam, tetapi ada pula campur tangan manusia. Kelalaian, pembukaan lahan dengan cara membakar, lemahnya pengawasan, hingga kurangnya kesadaran menjaga lingkungan merupakan persoalan yang harus kita berani akui.

Berdasarkan data yang dihimpun BNPB, total luas lahan yang terbakar akibat karhutla di Provinsi Jambi hingga Kamis (3/9) mencapai 1.879,31 hektare. Pada hari yang sama, estimasi area terbakar tercatat seluas 47,5 hektare. Sementara itu, hasil pemantauan menunjukkan terdapat 182 titik hot spot, yang terdiri dari 34 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi dan 148 titik dengan tingkat kepercayaan rendah dari estimasi 47,5 hektare area terbakar. https://www.bnpb.go.id

Selain itu, Berdasarkan hasil analisis citra satelit Sentinel-2 yang dilakukan Divisi GIS KKI Warsi hingga 3 September 2026 menunjukkan luas areal terbakar telah mencapai lebih dari 10 ribu hektare," kata Manager Komunikasi KKI Warsi Rudi Syaf.

Data tersebut berbeda dari yang dilaporkan Satgas Karhutla Provinsi Jambi. Menurut data Satgas,mulai dari Januari hingga 3 September 2026, total luas hutan dan lahan yang terbakar ada 1.879 hektare.

Kebakaran terpantau terjadi di lahan gambut maupun tanah mineral. Hasil analisis KKI Warsi yang ditumpangsusunkan dengan peta perizinan lahan di Jambi, menunjukkan kebakaran terjadi di area yang melibatkan 23 perkebunan kelapa sawit dan 11 Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).

Jika berdasarkan fungsi kawasan, kebakaran terbesar berada di kawasan hutan produksi dengan luas 4.534 hektare. Kemudian hutan produksi terbatas 2.960 hektare dan areal penggunaan lain (APL) seluas 2.144 hektare. https://www.detik.com 

Kemarau mungkin menjadi pemicu, tetapi manusia bisa menjadi penyebab.

Kita sering kali baru berbicara tentang lingkungan ketika asap sudah memenuhi udara dan sibuk mencari masker ketika dada sudah sesak serta mempertanyakan pemerintah ketika sekolah diliburkan atau pembelajaran dipindahkan ke rumah.

Padahal ada pertanyaan yang lebih :

Mengapa persoalan yang sama terus berulang?

Pemerintah memang memiliki tanggung jawab untuk melakukan pencegahan, pengawasan, pemadaman, dan penegakan hukum, namun apakah sudah Direalisasikan? Begitupun Masyarakat juga mempunyai tanggung jawab untuk tidak melakukan pembakaran yang dapat menyebabkan kebakaran meluas.

Jangan sampai kita hanya sibuk mencari siapa yang salah setelah bencana terjadi, tetapi lupa memperbaiki sistem agar bencana yang sama tidak kembali terjadi.

Bagi saya, berdoa agar hujan turun adalah bentuk ikhtiar spiritual. Bahkan pemerintah dan masyarakat Jambi telah melakukan Salat Istisqa sebagai ikhtiar memohon hujan. Namun doa tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab. Kita berdoa meminta hujan, tetapi pada saat yang sama harus berusaha memadamkan api.

Kita meminta Tuhan menjaga alam, tetapi kita juga harus berhenti merusaknya.

Kita berharap udara kembali bersih, tetapi kita juga harus memastikan tidak ada tangan manusia yang dengan sengaja membuatnya tercemar.

Pada akhirnya, mungkin jawabannya bukan memilih antara “bencana dari Tuhan” atau “perbuatan manusia.” Bisa jadi, ini adalah sebuah ujian sekaligus peringatan.

Kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang. Ini adalah persoalan kesehatan, pendidikan, ekonomi, lingkungan, dan masa depan. Maka jangan hanya bertanya, “Kapan hujan turun”?

Namun tanyakan “Apa yang sudah kita lakukan agar api tidak kembali menyala?”