Oleh : Dr.
M. Junaidi Habe, M.Si / Instruktur NDP
Ketahuilah.com | Jambi - Dalam dinamika perkaderan HMI,
Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sering kali diperlakukan sebatas materi
hafalan formalistis. Forum Latihan Kader (LK) kerap memacu peserta untuk fasih
melafalkan teks, bab, dan pasal demi kelulusan administratif. Namun, ketika
dihadapkan pada realitas ketimpangan sosial, krisis ekologi, dan disrupsi
digital, daya analisis kader kerap gagap. NDP pun berisiko tereduksi menjadi
sekadar doktrin mati yang kehilangan daya pembebasnya.
Akar masalahnya terletak pada kegagalan
menghayati lima instrumen Ma'rifatullah dalam NDP sebagai sebuah
epistemologi atau metodologi berpikir kritis. Nurcholish Madjid (Cak Nur)
merumuskan NDP bukan sebagai teks dogma baku yang kaku, melainkan sebagai gubahan
nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan yang berorientasi pada kemajuan (idea of
progress). Bagi Cak Nur, tauhid yang diajarkan dalam NDP harus membebaskan
manusia dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah, termasuk
membebaskan akal dari keterpukuan dogmatis.. Berikut adalah penjelasan serta
contoh konkret bagaimana kelima instrumen ini seharusnya diterapkan di
lapangan:
1. Akal Pikiran (Al-'Aql / Burhan). Akal bukan sekadar wadah penampung doktrin,
melainkan instrumen untuk menguji kebenaran secara ilmiah, rasional, dan
sistematis, sebagai contoh , Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan ekonomi atau undang-undang baru,
kader tidak hanya menghafal pasal-pasal NDP tentang keadilan sosial. Kader
mengumpulkan data, menganalisis dampak akademisnya, dan membongkar cacat logika
di balik kebijakan yang merugikan publik tersebut.
2. Kalbu atau Hati Nurani (Al-Qalbu
/ Bashirah). Kalbu berfungsi mengasah empati batin dan
kepekaan nurani, sehingga intelektualitas kader tidak berjarak dari realitas
sosial. Cak Nur menekankan bahwa keimanan yang sejati harus memancar dalam
kepekaan kemanusiaan (hanifiyyah as-samhah). Contoh , Saat terjadi konflik agraria atau penggusuran
lahan masyarakat (mustadh'afin), kader tidak cukup hanya berdiskusi di
kafe. Kalbu yang hidup akan melahirkan rasa keterpanggilan moral untuk turun
langsung mendampingi dan merasakan penderitaan warga.
3. Diri Sendiri (An-Nafs). Menjadi
ruang refleksi eksistensial untuk menyadari keterbatasan diri dan menjaga
integritas moral. Contoh, Kader melakukan otokritik terhadap perilaku
organisasi menghindari
pragmatisme politik, politik uang, atau kesombongan intelektual saat menduduki
jabatan strategis di kampus maupun organisasi.
4. Wahyu dan Kitab Suci (Al-Qur'an). Wahyu
adalah kompas etik dan daya pembebas (liberating force), bukan alat
legitimasi kekuasaan atau dogmatisme buta. Dalam pandangan Cak Nur, Al-Qur'an
memberikan petunjuk universal agar manusia senantiasa menegakkan keadilan dan
melawan tirani. Misalnya Menggunakan
nilai-nilai Al-Qur'an (seperti spirit perlawanan terhadap
penindasan/kestrukturalan) untuk memperjuangkan hak-hak buruh dan kesetaraan,
bukan menggunakan ayat agama untuk membenarkan penindasan.
5. Alam Semesta (Ayat Kauniyah)
Menuntut keberanian kader untuk membaca data empiris, sains, dan realitas
lingkungan secara objektif. Menurut Cak Nur, memahami sunnatullah di
alam semesta adalah bagian tak terpisahkan dari tauhid, Contohnya Menggunakan
nilai-nilai Al-Qur'an (seperti spirit perlawanan terhadap penindasan
struktural) untuk memperjuangkan hak-hak buruh dan kesetaraan, bukan
menggunakan ayat agama untuk membenarkan penindasan.
Tanpa integrasi kelima instrumen
ini, perkaderan hanya akan mencetak kader yang mahir berretorika tetapi asing
dari penderitaan masyarakat. NDP harus dikembalikan ke fungsi utamanya: sebagai
pisau analisis realitas dan arah perjuangan sosial.

0 Komentar