-->
  • Jelajahi

    Copyright © Ketahuilah
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Homeless Media dan Ilusi Kebebasan di Era Oligarki Digital

    Ketahuilah
    Sabtu, 16 Mei 2026 Last Updated 2026-05-16T14:56:32Z



    Oleh : Muhammad Al Hafizh, S.I.Kom., M.I.Kom (Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin)

    Ketahuilah.com - Opini - Belakangan ini saya mulai tertarik mengamati fenomena Homeless Media. Dalam ilmu komunikasi, media baru (new media atau media generasi kedua) sering dianggap lebih demokratis dibanding media lama. David Holmes dalam Littlejohn menjelaskan bahwa media generasi kedua bersifat lebih cair, komunikasinya dua arah, dan memungkinkan setiap orang menjadi produsen informasi. Karena itu, media sosial kerap dipandang sebagai ruang yang lebih bebas dibanding televisi atau surat kabar.


    Awalnya saya juga berpikir demikian. Akun media di Instagram, TikTok, hingga YouTube terlihat lebih independen, dekat dengan anak muda, dan tidak terikat institusi besar. Dari sanalah muncul istilah Homeless Media, media yang seolah tidak memiliki rumah atau afiliasi kekuasaan tertentu.


    Namun belakangan, saya mulai melihat fenomena ini dengan sudut pandang berbeda. Saya merasa sebenarnya tidak ada media yang benar-benar “homeless”. Semua tetap memiliki rumah, hanya saja bentuknya tidak lagi berupa gedung redaksi atau kantor televisi.


    Hari ini, pemilik modal seperti memukul rata seluruh ekosistem media sosial. Mulai dari Homeless Media, influencer, hingga akun clippers yang hanya memotong podcast lalu mengunggah ulang ke TikTok, semuanya bergerak dalam satu tujuan besar: membangun opini publik dan menguasai perhatian masyarakat.


    Semakin saya amati, memang arahnya bergerak ke sana. Yang paling mahal hari ini bukan lagi sekadar informasi, melainkan perhatian publik. Semua orang berlomba masuk FYP, viral, dan terus muncul di timeline pengguna media sosial. Dalam situasi seperti itu, saya mulai sadar bahwa media sosial bukan hanya ruang ekspresi, tetapi telah berubah menjadi industri perhatian (attention industry). Dan dalam industri sebesar itu, rasanya sulit percaya bahwa semuanya bergerak sepenuhnya organik.


    Saya kemudian melihat salah satu contoh menarik, yaitu Taulany TV. Jika kita mencari di Google dengan kata kunci “siapa pemilik Taulany TV”, nama yang muncul tentu Andre Taulany karena publik mengenalnya sebagai wajah utama media tersebut.


    Namun saya mulai berpikir, apakah figur yang tampil di depan kamera selalu menjadi pemilik sebenarnya?


    Belakangan saya menemukan nama Ranggaz Ananta Laksmana yang disebut berada di balik pengelolaan media tersebut. Ranggaz diketahui merupakan anak dari Rudy Setia Laksmana, Komisaris Utama PT Mahaka Digital Inovasi.


    Hal yang membuat saya semakin tertarik adalah ketika melihat akun Instagram Ranggaz yang juga mencantumkan Taulany TV di bio media sosialnya. Di titik itu saya merasa publik memang lebih mengenal figur yang tampil di depan kamera dibanding jaringan bisnis dan modal yang bekerja di belakang layar.


    Dari sana saya mulai memahami bahwa oligarki media sebenarnya tidak pernah hilang. Mereka hanya berubah bentuk mengikuti perkembangan zaman. Jika dahulu oligarki bermain melalui televisi, radio, dan surat kabar, kini mereka masuk ke media sosial, influencer, podcast, akun viral, hingga clippers. Yang berubah bukan cara menguasai opini publiknya, melainkan mediumnya.


    Menurut saya, justru di situlah letak bahayanya. Dahulu keberpihakan media lebih mudah dikenali. Sekarang propaganda hadir melalui meme, video lucu, potongan podcast, dan konten hiburan. Orang merasa hanya sedang menikmati hiburan, padahal secara perlahan opini mereka sedang dibentuk.


    Media sosial membuat semuanya tampak alami dan organik. Padahal algoritma bisa dimainkan, distribusi bisa dibeli, dan engagement dapat didorong dengan modal besar. Karena itu, saya mulai merasa istilah Homeless Media hanyalah ilusi. Mereka terlihat tidak memiliki rumah karena tidak mempunyai newsroom seperti media lama. Padahal rumah mereka hanya berubah bentuk: bernama modal, algoritma, jaringan distribusi, dan oligarki digital.


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini