-->
  • Jelajahi

    Copyright © Ketahuilah
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Hening di Puncak Sejarah: Lantunan Zikir dan Doa Bersama Ketua Baznas Kota Jambi di Bukit Siguntang

    Ketahuilah
    Sabtu, 06 Juni 2026 Last Updated 2026-06-06T13:07:00Z


    Ketahuilah.com - Jambi - Angin berhembus lembut menyapu dedaunan di kawasan rindang yang asri, seakan turut menyambut langkah-langkah peziarah yang sarat akan kerinduan pada tapak tilas sejarah. Di tengah suasana khusyuk tersebut, lantunan zikir bergema memecah keheningan, menggetarkan sanubari siapa saja yang hadir. Dipimpin langsung oleh Ketua Baznas Kota Jambi, yakni Tuan Guru Dr. Padli Abdullah, untaian doa dan selawat mengalir deras dalam acara Ziarah Bukit di Bukit Siguntang yang berlokasi di Desa Muaro Sekalo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.




    Agenda spiritual yang menggugah jiwa ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan luhur yang diinisiasi oleh Pusat Data Artefak dan Sejarah Nusantara (PUDAS) Jambi yang berlangsung sejak tanggal 4 hingga 7 Juni 2026. Kehadiran peziarah kali ini terasa begitu istimewa, sebab turut dihadiri oleh rombongan keluarga keturunan Jambi dan dari Kerajaan Perak serta Trengganu, Malaysia. Kehadiran delegasi dari negeri jiran yang diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Raja Patih Ross Shah Bin Raja Habib Ismail Saufi, Tengku Zubir Bin Tengku Jaafar, Tuan Anuar Bin Abdul Ghani, Tengku Maimun Binti Tengku Jaafar, Puan Kamariah Binti Yusof, dan Puan Mariam Binti Kushairi, ditujukan untuk merajut kembali benang merah sejarah leluhur mereka yang agung.


    Menyusuri Jejak Leluhur dengan Hati Tertunduk


    Pada hari Sabtu, 6 Juni 2026, perjalanan spiritual ini mencapai salah satu momen puncaknya. Setelah sebelumnya rombongan bersilaturrahmi dengan Pemerintah Kabupaten Tebo pada pukul 08.00 hingga 10.00 WIB, rombongan langsung bergerak menuju lokasi ziarah. Usai menunaikan istirahat, sholat, dan makan siang (Ishoma) di masjid desa setempat pada pukul 12.00 WIB, para peziarah perlahan mendaki menuju titik bersejarah Bukit Siguntang tepat pada pukul 13.00 hingga 14.00 WIB.


    Di bawah rimbunnya alam Bukit Siguntang, Tuan Guru Dr. Padli Abdullah mengambil tempat untuk menuntun para peziarah menundukkan hati. Zikir yang dilantunkan bukan sekadar ritual biasa, melainkan jembatan spiritual yang menghubungkan masa kini dengan kearifan masa lalu. Suasana syahdu dan penuh haru menyelimuti bukit yang menjadi saksi bisu peradaban Nusantara ini, disaksikan oleh seluruh peziarah termasuk tim peneliti PUDAS, perwakilan yayasan, dan para akademisi dari Jambi.


    Rangkaian Panjang Merawat Ingatan

    Kegiatan bersejarah ini diketuai oleh Hafizi Alatas yang menjabat sebagai Ketua Yayasan PUDAS sekaligus Ketua Panitia Pelaksana. Kehadirannya juga didukung oleh perwakilan dari Jambi lainnya, seperti Ketua Tim Peneliti PUDAS Via Dicky, akademisi Dr. Yusdi Anra, MPd dan Dr. Abdul Halim Haviz PhD, Uztad Ahmad Nuzilli dari Pondok Pesantren Hifzurrahman Kota Jambi, Dr. Tabroni dari Pusat Peradaban Melayu UIN STS Jambi, Ketua Yayasan Husein Palaguna Robi Susanto, beserta para staf dan tim peneliti. Dedikasi mereka menjadi bukti nyata bahwa kepedulian untuk merawat jejak peradaban leluhur tidak pernah pudar.


    Berikut adalah beberapa rangkaian penting yang mengiringi ziarah emosional di Bukit Siguntang:


    • Penyambutan hangat rombongan keluarga keturunan dari Jambi dan delegasi Kerajaan Perak serta Trengganu di Kota Jambi pada Kamis, 4 Juni 2026.
    • Lawatan silaturrahmi di Rumah Dinas Walikota Jambi serta ibadah sholat Jumat di Masjid Al Falah sebelum bertolak memulai perjalanan darat ke Kabupaten Tebo pada Jumat, 5 Juni 2026.
    • Ziarah lanjutan ke Makam Putri Pinang Masak di Teriti pada hari Sabtu sore, yang dijadwalkan dari pukul 16.00 hingga 18.00 WIB.


    Penutupan yang penuh makna melalui ziarah ke Makam Sultan Thaha pada hari Minggu pagi, 7 Juni 2026, sebelum rombongan mempersiapkan perjalanan kembali menuju Kota Jambi.

    Melalui gema zikir yang dipimpin oleh Ketua Baznas Kota Jambi di atas Bukit Siguntang, tempat ini tidak lagi sekadar menjadi titik koordinat peninggalan masa lampau, melainkan hidup dan bernapas kembali melalui doa-doa yang tulus dipanjatkan. Sebuah pengingat manis bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tak pernah lupa memuliakan para pendahulunya.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini