-->
  • Jelajahi

    Copyright © Ketahuilah
    Best Viral Premium Blogger Templates

    WWF Indonesia dan Petani Tanam 30 Ribu Bibit di Landscape Bukit Tiga Puluh, Pulihkan Hutan Sekaligus Cegah Konflik Gajah

    Ketahuilah
    Selasa, 02 Juni 2026 Last Updated 2026-06-02T15:31:08Z

    Ketahuilah.com - Jambi - Masyarakat Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis, Kabupaten Tebo, Jambi. Tanam 30 ribu bibit di wilayah Landscape Bukit Tiga Puluh.


    Perlu diketahui, World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia. Meluncur Program  Restorasi Berbasis Masyarakat (RBM) ke kelompok petani dan menjadi antusias masyarakat.


    Apri, Sekretaris Kelompok Sepenat Alam Lestari, menceritakan bagaimana masyarakat perlahan belajar hidup berdamai dengan “Datuk Gedang”, sebutan warga untuk gajah.


    “Kami sudah puluhan tahun hidup di sini. Sekarang kami sudah bersahabat dengan gajah,” kata Apri saat diwawancarai, Senin malam (4/5/2026).


    Namun, perjalanan menuju hidup berdampingan itu tidak mudah. Dahulu, para petani kerap bentrok dengan gajah karena hewan tersebut masuk ke lahan warga dan merusak tanaman.


    “Dulu tanaman kami habis dirusak gajah,” ujarnya.


    Apri mengaku pernah kewalahan menghadapi gangguan kawanan gajah. Dari pengalaman itu, warga mulai mencoba menanam berbagai jenis tanaman seperti kopi, durian, dan kemiri.


    “Alhamdulillah, tanaman itu tidak dirusak gajah,” katanya.


    Menurut Apri ada dua jenis tanaman yang disukai gajah, yakni karet dan sawit. Sehingga ketika pakan terbatas di alam, kedua jenis tanaman ini kerap menjadi pilihan bagi satwa kharismatik tersebut.


    “Gajah ini sangat suka makan kulit pohon karet,” jelasnya.


    Menurutnya, kawanan gajah biasanya turun ke area perkebunan warga saat musim penghujan. Bahkan, pada momen Idul Fitri lalu tahun 2026, empat kelompok gajah masuk ke lahan pertanian warga.


    “Jumlahnya sekitar 30 sampai 50 ekor,” ujarnya.


    Mayoritas anggota Kelompok Sepenat Alam Lestari merupakan petani karet, meski sebagian juga menanam sawit. Saat Idul Fitri lalu, lahan sawit warga menjadi sasaran kawanan gajah.


    “Umbut sawit itu manis, jadi habis dimakan gajah,” katanya.


    Kini, Apri memilih menjadi petani kopi. Selain karena tanaman kopi tidak disukai gajah, ia juga ikut dalam program restorasi berbasis masyarakat bersama World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia.


    “Kami ikut program ini karena sebagai petani di Landscape Bukit Tiga Puluh, kami merasa punya kewajiban melakukan penghijauan,” ujarnya.


    Melalui program tersebut, warga menanam berbagai jenis pohon seperti meranti, gaharu, bayur, hingga tanaman buah yang dapat menjadi sumber ekonomi masyarakat.


    Apri menjelaskan, Kelompok Sepenat Alam Lestari memiliki lahan perhutanan sosial seluas sekitar 3.101 hektare. Setiap anggota kelompok diwajibkan menanam pohon kayu-kayuan dan pohon buah.


    “Setiap orang menanam minimal 25 batang pohon kayu dan 25 bibit pohon buah,” jelasnya.


    Dalam satu hektare lahan, masyarakat menanam sekitar 200 batang pohon, baik tanaman buah maupun kayu-kayuan.


    Di lahan tumpang sari miliknya, Apri menanam beragam tanaman seperti sawit, kopi, durian, klengkeng dan pohon meranti, gaharu serta bayur. Menurutnya, pola tanam itu cukup efektif mengubah jalur gajah agar tidak memasuki kebun.


    “Di sela-sela pohon sawit kami tanami kopi, jadi gajah sulit masuk. Lagi pula kopi memang tidak disukai gajah,” ujarnya.


    Apri mengatakan, sebelumnya kebunnya selalu didatangi gajah karena ia menanam pohon karet dan sawit. “Dari pengalaman itu kami mulai mencari cara lain, akhirnya mencoba menanam kopi karena ternyata tidak dirusak gajah,” katanya.


    Apri memutuskan agar mampu berbagi ruang atau hidup berdampingan dengan satwa, dirinya akan menambah tanaman yang tidak disukai Gajah. 


    Dengan tanaman ini, terbukti meskipun masuk ke dalam kebun, tanaman kopi, durian dan klengkeng tidak disentuh. “Kalaupun gajah masuk ke kebun kopi, mereka hanya lewat di tengah kebun dan tidak merusak tanaman,” ujarnya.


    Menurut Apri, hingga saat ini kopi menjadi salah satu tanaman yang paling aman dari gangguan gajah.


    “Tanaman kopi sampai sekarang belum pernah dirusak gajah,” katanya.


    Sementara itu, Rara Yulia Putri, Community Development Officer WWF Indonesia mengatakan bahwa masyarakat yang ikut dalam program Restorasi Berbasis Masyarakat (RBM) di Landscape Bukit Tiga Puluh Tebo tersebut. Ada tujuh kelompok petani di dua desa.


    “Iya ada 7 kelompok, dengan  110 anggota yang ikut dalam program tersebut,” katanya, pada Kamis (28/05/2026).


    Sebaran penanaman pohon di bentang alam Bukit Tiga Puluh berada di kebun petani dengan pendekatan agroforestri, lalu lahan kritis dan sepandan sungai.


    “Saat ini, yang terekam di data Reconnect plus mencapai 163,6 hektar," ungkap Rara.


    Perlu diketahui, bahwa program Restorasi Berbasis Masyarakat merupakan program penghijauan di Landscape Bukit Tiga Tebo, dengan menerapkan teknologi Reconnect plus, untuk memastikan keberhasilan restorasi.


    Pohon yang ditanam akan terekam dalam aplikasi Reconnect plus, kata dia berbasis geolokasi. Dengan demikian akan mudah dipantau, baik oleh petani maupun publik.


    "Intinya Reconnect plus menjadi alat untuk memantau dan memonitor tingkat keberhasilan restorasi," kata Rara.


    Kondisi Landscape Bukit Tiga Puluh saat ini tekanan berat alih fungsi lahan dan deforestasi hutan sehingga perlu dilakukan restorasi kembali.


    Rara menjelaskan dari program tersebut pihak WWF Indonesia memberikan bibit pohon dan bibit buah ke 7 kelompok petani yang sudah dibentuk tersebut.


    Selain itu, bibit yang diberikan ke petani ditargetkan mencapai 30 ribu bibit, baik dari bibit buah dan pepohonan.


    “Jadi bibit yang kita targetkan adalah 30.000 bibit. 3 jenis pohon buah dan 1 jenis pohon kayu untuk setiap orang yang menanam di lahan mereka,”jelasnya.


    “Ada sekitar 28 jenis tanaman diantaranya jenis buah durian, alpukat, kelengkeng, pete, jengkol, kopi, kakao, matoa, dan lainnya. Sedangkan untuk jenis kayu ada gaharu, meranti, medang, mahoni, cengkeh, dan lainnya,”imbuhnya.


    Rara juga berharap dengan adanya dukungan dari WWF Indonesia ini dalam Program Restorasi Berbasis Masyarakat ini, masyarakat bisa menanam pohon di lahan agar mengurangi deforestasi hutan.


    Menurut dia, dikarenakan penurunan kualitas hutan yang terjadi akibat deforestasi maka dengan adanya restorasi ini dapat memulihkan kawasan hutan, dengan menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utamanya.


    ”Kita berharap upaya yang dilakukan petani dapat memulihkan kondisi ekosistem yang telah menurun. Selain itu bisa memberikan nilai ekonomi dimasa yang akan datang dari hasil panen tanaman buah yang telah ditanam,” harapnya. 


    Dalam hal tersebut, kata Rara, selain dilakukan restorasi ini bukan hanya sekedar penghijauan saja atau menambah ekonomi masyarakat tidak kalah pentingnya memulihkan habitat satwa liar 


    “Agar konflik antara manusia dan satwa liar khususnya adalah gajah itu berkurang. Maka upaya restorasi ini dengan penanaman pohon yang tidak disukai gajah akan memitigasi interaksi negatif antara manusia dan gajah,” tutupnya.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini