Oleh; Dr. Pahmi. Sy. S.Ag, M.Si
“Sepak bola yang mendunia tidak pernah sekadar permainan. Ia adalah cermin identitas, panggung diplomasi, sekaligus arena perebutan pengaruh di tingkat global.”
Ketahuilah.com | Internasional - Rektor UIN STS Jambi mengajak warga UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi untuk belajar dari pertandingan sepak bola khusus perhelatan sepak bola piala dunia (World Cup Football) tahun 2026.
Pada setiap pertandingan terdapat strategi dan taktik, terlihat profesionalitas, integritas dan sportifitas para pemain dan/atau group serta netralitas wasit. Ada klub yang kalah dan pulang kampung, ada yang bertahan sampai ke puncak final seperti Argentina v.s Spanyol, yang keduanya juara dua benua, yaitu Eropa (Spanyol) dan Amarika Latin (Argentina) .
Civitas Akademika UIN STS Jambi Nonton Bereng (NOBAR) pada partai final 20 Juli 2026 pukul 02.00 s.d 05.00 di pelataran rumdis rektor kampus I Telanaipura kota Jambi. Rektor mengajak memperhatikan hal-hal yang lebih luas dari Piala Dunia 2026 yang dapat dijadikan spirit perjuangan, kesungguhan, kebersamaan dan keteladanan dalam membangun Kampus Biru UIN STS Jambi.
Piala dunia 2026 telah usai dan negara Spanyol menjadi juara dunia setelah menaklukkan Argentina 1-0 di partai final. Banyak pemain muda yang bersinar dengan profesionalitas dan integritas yang tinggi seperti Lamine Yamal (usia 19 tahun) dan kawan-kawan dari tim kesebelasan Spanyal, namun ada juga pemain senior seperti Leonal Messi (usia 39 tahun) dan kawan-kawan dari Argentina yang sepanjang Piala Dunia 2026 masih terus bersinar dan berjuang tampa henti untuk menunjukkan berkelas unggul.
Bola kaki adalah sebuah permainan dalam suatu waktu dan ruang tertentu, yang dikonstruksi oleh aturan tertentu untuk menjadi rujukan semua pihak yang terlibat baik secara individu maupun kelompok.
Meskipun awalnya hanya sekedar permainan, bola kaki sudah menjadi arena yang luas bagi pertarungan kehidupan antar negara di dunia, Baik itu politik, ideologi, nasionalisme, ekonomi, budaya, media dan kehidupan sosial lainnya.
Piala Dunia FIFA 2026 merupakan penyelenggaraan terbesar sepanjang sejarah. Untuk pertama kalinya turnamen ini diikuti oleh 48 negara dan diselenggarakan secara bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Di balik kemegahan stadion, jutaan penonton, dan euforia pertandingan, tersimpan dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar olahraga. Piala Dunia adalah ruang perjumpaan antara budaya, politik, ekonomi, dan identitas bangsa.
Dalam perspektif antropologi politik, olahraga merupakan praktik budaya yang sarat makna. Stadion bukan hanya tempat mencetak gol, tetapi juga ruang tiempat identitas nasional dipertontonkan.
Bendera berkibar, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan jutaan suporter mengenakan warna kebanggaan negaranya. Semua simbol tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah bangsa membangun solidaritas dan rasa memiliki terhadap negaranya.
Karena itu, kemenangan sebuah tim nasional sering dimaknai sebagai kemenangan bangsa. Sebaliknya, kekalahan juga dapat menghadirkan refleksi bahkan kritik terhadap kondisi sosial dan politik suatu negara.
Sepak bola menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan masyarakat lintas kelas sosial, agama, dan etnis dalam satu identitas kolektif. Untuk itu melalui sepak bola pelajaran penting lainnya adalah perdamaian dunia akan terwujud apabila masing masing negara saling menghormati, menghargai dan mencintai serta saling membantu, sebab adakanya menang (berjaya) dan adaklanya kalah (terpuruk).
Di sisi lain, Piala Dunia juga merupakan arena kekuasaan. Negara tuan rumah memanfaatkan momentum tersebut untuk memperlihatkan kemajuan ekonomi, stabilitas politik, kemampuan teknologi, serta citra positif di mata dunia. Dalam ilmu hubungan internasional, strategi ini dikenal sebagai soft power, yaitu kemampuan memengaruhi negara lain melalui daya tarik
budaya, nilai, dan reputasi, bukan melalui kekuatan militer atau tekanan ekonomi.
Tidak mengherankan apabila penyelenggaraan Piala Dunia selalu berkaitan dengan diplomasi internasional. Isu keamanan, migrasi, hubungan antarnegara, hingga hak asasi manusia sering menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari turnamen.
Edisi 2026 pun berlangsung di tengah dinamika geopolitik dunia yang semakin kompleks, sehingga pertandingan di lapangan sering kali dibayangi oleh berbagai kepentingan politik global.
Selain itu, Piala Dunia juga menjadi ruang pembentukan identitas global. Media massa danmedia sosial mempertemukan miliaran orang dari berbagai budaya dalam satu percakapan yang sama.
Dukungan terhadap sebuah negara tidak selalu didasarkan pada kewarganegaraan, tetapi juga pada kedekatan budaya, sejarah, nilai, maupun simpati terhadap perjuangan suatu bangsa. Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas pada era global tidak lagi bersifat tunggal, melainkan semakin cair dan lintas batas.
Namun demikian, komersialisasi yang semakin kuat menghadirkan tantangan tersendiri. Dominasi sponsor, hak siar bernilai miliaran dolar, serta industri hiburan global menjadikan sepak bola sebagai bagian dari ekonomi politik dunia.
Di satu sisi, kondisi ini meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan manfaat ekonomi. Di sisi lain, muncul kritik bahwa nilai-nilai
sportivitas dan kedekatan sepak bola dengan masyarakat mulai tergerus oleh kepentingan bisnis dan perebutan pengaruh global.
Bagi Indonesia, meskipun belum menjadi peserta tetap Piala Dunia, terdapat pelajaran penting yang dapat dipetik. Sepak bola dapat menjadi instrumen untuk membangun karakter bangsa, memperkuat persatuan, meningkatkan diplomasi budaya, sekaligus memperkenalkan identitas Indonesia kepada dunia. Pembinaan olahraga yang profesional, tata kelola yang transparan, serta budaya sportivitas merupakan investasi penting menuju bangsa yang maju.
Pada akhirnya, Piala Dunia 2026 mengajarkan bahwa olahraga bukanlah ruang yang terpisah dari kehidupan sosial dan politik. Ia adalah cermin peradaban manusia. Di dalamnya terdapat semangat kompetisi, kebanggaan nasional, diplomasi, bahkan perebutan pengaruh global.
Selama manusia masih menjadikan identitas dan kebangsaan sebagai bagian dari kehidupannya, sepak bola akan selalu menjadi lebih dari sekadar permainan. Ia akan tetap menjadi panggung tempat budaya, identitas, dan kekuasaan saling bertemu. Ini pembelajaran penting bagi Kampus, khusunya Civitas Akademika UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, untuk membangunn peradaban kampus dan Jambi berkelas Internasional
