Iklan

WWF Gandeng 112 Petani Untuk Tanam 30 Ribu Bibit Pohon di Bentang Alam Bukit Tigapuluh Tebo

Ketahuilah.com | Jambi - Bentang Alam Bukit Tigapuluh (B30) di Kabupaten Tebo, Jambi, kini hanya menyisakan sekitar 40 persen tutupan hutan dari total luas kawasan mencapai 450.000 hektare. Kondisi tersebut mendorong berbagai upaya restorasi berbasis masyarakat guna memulihkan kawasan sekaligus menjaga habitat satwa liar yang tersisa.

Salah satu kelompok yang terlibat aktif dalam program tersebut adalah Kelompok Petani Bukit Tigapuluh yang diketuai Yoyok. Kelompok ini beranggotakan 15 petani yang mengelola lahan dengan beragam komoditas, mulai dari jahe, kopi, pinang, karet, kakao, petai, jengkol, vanili hingga gaharu.

Yoyok mengatakan, sejak 2023 kelompoknya mendapat pendampingan dari WWF Indonesia projeknya sekolah lapang karet berkelanjutan dengan skema agroforestry. Kemudian dilanjut ditahun 2026 itu Program Restorasi Berbasis Masyarakat (RBM). Program itu mendorong masyarakat menjadi pelaku utama dalam pemulihan kawasan hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

"WWF Indonesia memberikan bantuan bibit kopi, jahe, jeruk, serta bibit pohon seperti meranti dan gaharu untuk ditanam di lahan petani," ujarnya.

Ia menjelaskan, setiap anggota kelompok mengusulkan lahan mereka untuk masuk dalam program restorasi dengan luas bervariasi, mulai dari 0,5 hektare hingga 4 hektare.

Menurut Yoyok, sebagian besar petani di kawasan tersebut awalnya mengandalkan tanaman karet sebagai sumber penghasilan. Namun ketika harga karet anjlok, banyak petani memilih mengganti kebun mereka menjadi perkebunan kelapa sawit.

Berbeda dengan petani lainnya, Yoyok tetap mempertahankan kebun karetnya yang mencapai sekitar empat hektare.

"Banyak yang beralih ke sawit karena harga karet turun. Tapi saya tidak tega menebang pohon karet. Sayang kalau diganti semua dengan sawit," katanya.

Ia menilai kebun karet masih memiliki prospek karena seluruh hasil pertanian yang mereka tanam selalu memiliki pasar.

"Alhamdulillah semua tanaman yang kami tanam ada pembelinya," ungkapnya.

Selain tanaman produktif, melalui program WWF Indonesia para petani juga menerima bibit tanaman buah seperti durian, matoa serta beberapa jenis pohon kayu. Sebagian bibit pohon bahkan berasal dari hasil pencarian masyarakat yang kemudian dibeli oleh WWF untuk mendukung kegiatan restorasi.

Dalam program tersebut, setiap hektare lahan memperoleh sekitar 30 bibit lengkap dengan penyulaman untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh.

Yang menarik, seluruh proses penanaman dilakukan menggunakan aplikasi digital Reconnect. Melalui aplikasi tersebut, setiap bibit yang ditanam didata secara rinci, mulai dari lokasi, tinggi tanaman hingga nomor seri bibit.

"Setelah ditanam, datanya langsung dimasukkan ke aplikasi Reconnect, mulai dari tinggi tanaman sampai nomor seri bibit," jelas Yoyok.

Menurutnya, aplikasi tersebut memudahkan proses pemantauan perkembangan tanaman. Setiap tiga bulan sekali petani melakukan pengecekan untuk memastikan bibit yang ditanam tetap hidup.

"Dari aplikasi itu bisa diketahui bibit yang hidup atau mati. Jadi kami punya tanggung jawab untuk terus memantau tanaman yang sudah ditanam," pungkasnya.

Program Restorasi Berbasis Masyarakat di Bentang Alam Bukit Tigapuluh diharapkan tidak hanya mempercepat pemulihan kawasan hutan yang tersisa, tetapi juga menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat sekaligus menjaga habitat penting bagi gajah Sumatera, harimau Sumatera, dan satwa liar lainnya.

Sementara itu, Nazli Herimsyah Project Executant Bukit Tigapuluh Landscape WWF Indonesia mengatakan Landscape Bukit Tigapuluh merupakan hutan tropis datarn rendah di Pulau Sumatera yang memiliki nilai konservasi tinggi dan berfungsi sebagai habitat penting bagi berbagai spesies kunci yang dilindungi, seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), dan berbagai jenis satwa liar lainnya.

Menurut dia, dimana tutupan hutannya sekarang hanya tersisa 191.400 hektare 40 persen dari total llebih dari 450.000 hektar.

Lanjutnya, selain itu juga sebagai penopag kehidupan bagi 1.000 Masyarakat adat seperti suku talang mamak ada 800 orang kemudian suku orang rimba 210 orang juga Masyarakat Lokal yang menggantungkan hidup disana serta landscape ini Juga di Dominasi oleh  5 Konsesi. 

"Dalam beberapa dekade terakhir, Landscape Bukit Tiga Puluh menghadapi berbagai tantangan berupa perubahan tutupan hutan, fragmentasi habitat, degradasi ekosistem, perambahan kawasan, serta meningkatnya interaksi negatif antara manusia dan satwa liar,"jelasnya.

Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi mengurangi kualitas habitat, menghambat pergerakan satwa liar, serta meningkatkan risiko konflik yang dapat mengancam keselamatan maupun sumber ekonomi masyarakat serta  keberlangsungan populasi satwa liar yang dilindungi. 

"Oleh karena itu, diperlukan upaya konservasi yang terencana, terpadu, dan berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan termaksud masyarak yang berdiam di dalamnya,"ujarnya.

Nazli menjelaskan bahwa secara keseluruhan, tekanan yang paling dominan terhadap keberlangsungan Landscape Bukit Tigapuluh adalah perubahan tutupan lahan yang menyebabkan fragmentasi habitat, yang kemudian memicu meningkatnya konflik manusia dan satwa liar, khususnya gajah Sumatera, yang mengakibatkan kerusakan tanaman, kerugian ekonomi masyarakat, hingga ancaman terhadap keselamatan manusia dan satwa. 

Selain itu, tekanan ini saling berkaitan dan menjadi akar berbagai permasalahan konservasi di Landscape Bukit Tigapuluh.

Lanjutnya, secara umum, hingga Juni 2026 Program Restorasi Berbasis Masyarakat menunjukkan perkembangan yang positif. 

Keberhasilan program tidak hanya diukur dari 30.000 jumlah pohon yang ditanam , tetapi juga dari tingkat kelangsungan hidup tanaman (setidaknya memiliki survival rate 80 persen), keterlibatan aktif masyarakat (7 kelompok Masyarakat di 2 Desa (Suo-suo dan Muara Kilis) dengan 112 masyarakt terlibat), penguatan kelembagaan lokal, serta kontribusinya terhadap pemulihan fungsi ekosistem dan pengurangan tekanan terhadap habitat satwa liar (setidaknya berkonstribusi pada 163,62 ha). 

"Indikator-indikator tersebut akan terus dipantau secara berkala melalui kegiatan monitoring dan evaluasi dengan aplikasi reconnect untuk memastikan keberlanjutan hasil dalam jangka Panjang,"jelasnya.

Sedangkan untuk aplikasi Reconnect tidak hanya berfokus pada aksi penanaman pohon. Kata Nazli, melainkan menggunakan pendekatan pengelolaan restorasi berbasis WebGIS (Web-based Geographic Information System). 

Lanjutnya, aplikasi ini dapat memastikan tingkat keberhasilan restorasi dengan melakukan monitoring kondisi penanaman berbasis geotagging dan akan diolah dalam bentuk tingkat hidup penanaman. 

Proses pemantauan ini merupakan dasar utama bagi fase pemeliharaan dalam siklus penanaman, sehingga akan mendukung upaya memastikan keberhasilan Tingkat penanaman.

Keberhasilan restorasi dilihat dari tingkat survival rate dan tingkat pertumbuhan yang akan dimonitor. 

"Kami menerapkan 2 petak ukur 1 petak ukur permanen (PUP) yang akan dilakukan monitoring rutin di tempat yang sama dengan luasan yang representatif untuk melihat tingkat pertumbuhan tanaman. Kami membuat petak ukur yang dipilih dengan metode stratified sampling with random start yang dibuat secara khusus untuk melihat survival rate hidup/ mati lokasi petak ukur ini dibedakan tiap kali monitoring untuk menghindari bias,"tutupnya.