Iklan

Bujang Upik Merangin 2026 : Bukan Sekadar Gelar, Mereka Disiapkan Jadi Duta Wisata hingga Mancanegara

Ketahuilah.com | Merangin - Malam Grand Final Pemilihan Bujang Upik Kabupaten Merangin 2026 bukan sekadar panggung untuk menentukan siapa yang akan menyandang gelar sebagai putra-putri terbaik daerah.

Di balik sorotan lampu Panggung Budaya Biduk Amo, Sabtu (22/8), tersimpan harapan yang lebih besar: melahirkan generasi muda yang mampu mengenalkan kekayaan wisata dan budaya Merangin hingga ke tingkat nasional, bahkan mancanegara.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Merangin, Zulhifni, yang hadir dalam malam grand final tersebut, menegaskan bahwa Bujang Upik terpilih nantinya memiliki tanggung jawab sebagai Duta Wisata dan Duta Budaya Merangin.

Karena itu, menurutnya, kemenangan dalam ajang tersebut tidak boleh berhenti pada mahkota, selempang, atau gelar.

Para finalis harus memiliki pengetahuan yang kuat mengenai identitas daerah yang akan mereka wakili.

“Kita sama-sama berharap, finalis Bujang Upik ini menjadi Duta Wisata dan Duta Budaya Merangin yang memahami potensi Kebudayaan dan Wisata Merangin karena mereka yang akan mempromosikannya ke luar, baik nasional maupun mancanegara,” ujar Zulhifni.

Duta yang Harus Mengenal Daerahnya Sendiri

Pesan Sekda tersebut menempatkan Bujang Upik dalam posisi yang lebih strategis.

Seorang duta wisata tidak cukup hanya memiliki kemampuan berbicara di depan publik atau tampil meyakinkan. Mereka harus memahami apa yang mereka promosikan.

Merangin memiliki kekayaan budaya, sejarah, tradisi, serta potensi wisata yang menjadi bagian dari identitas daerah.

Semua kekayaan tersebut membutuhkan generasi muda yang mampu menceritakannya dengan bahasa yang menarik dan relevan dengan perkembangan zaman.

Di tengah perubahan pola promosi wisata yang semakin digital, kemampuan generasi muda untuk mengemas cerita daerah menjadi kekuatan tersendiri.

Destinasi wisata tidak lagi hanya diperkenalkan melalui brosur atau baliho. Cerita mengenai suatu daerah kini dapat bergerak melalui media sosial, konten digital, komunitas, hingga jejaring internasional.

Di sinilah Bujang Upik diharapkan mengambil peran.

Mereka bukan hanya menjadi wajah Kabupaten Merangin, tetapi juga menjadi storyteller yang memperkenalkan identitas daerah kepada dunia.

Bahasa Inggris Disiapkan dari Kecamatan

Pemerintah Kabupaten Merangin menyadari bahwa ambisi membawa potensi daerah ke tingkat internasional membutuhkan persiapan.

Karena itu, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Pemkab Merangin telah merancang program penguasaan bahasa Inggris di seluruh kecamatan.

Program tersebut diarahkan sebagai investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi muda yang memiliki kemampuan komunikasi internasional.

Bagi sektor pariwisata, kemampuan bahasa menjadi salah satu modal penting.

Seorang duta wisata yang mampu menjelaskan sejarah, budaya, kuliner, destinasi, dan karakter masyarakat Merangin dalam bahasa internasional akan memiliki ruang komunikasi yang lebih luas.

Dengan demikian, program bahasa Inggris tersebut tidak hanya berkaitan dengan pendidikan.

Lebih jauh, ia merupakan bagian dari strategi menyiapkan sumber daya manusia pariwisata yang mampu menjawab peluang global.

Dari Panggung Budaya Menuju Panggung Dunia

Antusiasme tinggi para peserta menjadi salah satu gambaran bahwa generasi muda Merangin memiliki minat besar terhadap ruang aktualisasi yang berkaitan dengan budaya dan pariwisata.

Zulhifni pun meminta agar kualitas penyelenggaraan Pemilihan Bujang Upik terus ditingkatkan dari tahun ke tahun.

Pesan tersebut penting agar ajang tahunan itu tidak berhenti sebagai agenda seremonial.

Bujang Upik harus dikembangkan menjadi ruang pembinaan generasi muda.

Peserta tidak hanya dinilai dari penampilan, tetapi juga pengetahuan budaya, wawasan pariwisata, kemampuan komunikasi, kreativitas, kepemimpinan, serta kemampuan mempromosikan potensi daerah.

Dengan pola pembinaan seperti itu, Bujang Upik dapat menjadi bagian dari ekosistem promosi wisata Merangin.

Ketika Anak Muda Menjadi Wajah Merangin

Ada makna yang lebih besar dari sebuah selempang bertuliskan “Merangin”.

Di balik selempang itu terdapat identitas daerah yang harus dijaga.

Di balik mahkota terdapat tanggung jawab untuk menjadi teladan.

Dan di balik gelar duta wisata terdapat tugas untuk membuat orang lain mengenal Merangin, tertarik datang, kemudian membawa pulang cerita baik tentang daerah tersebut.

Karena itu, keberhasilan Bujang Upik tidak semestinya hanya diukur dari kemeriahan malam grand final.

Ukuran yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah malam itu berakhir.

Apakah mereka mampu mengunjungi sekolah dan komunitas untuk memperkenalkan budaya lokal?

Apakah mereka mampu membuat konten digital tentang destinasi wisata Merangin?

Apakah mereka mampu membangun jejaring dengan pelaku ekonomi kreatif dan UMKM?

Dan yang paling penting, apakah mereka mampu membuat generasi muda lainnya bangga terhadap identitas daerahnya sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Bujang Upik Merangin 2026.

Investasi SDM untuk Pariwisata Merangin

Kehadiran Bujang Upik dalam ekosistem pariwisata pada akhirnya bukan hanya persoalan promosi.

Ia berkaitan dengan bagaimana sebuah daerah membangun sumber daya manusia yang memahami potensi wilayahnya.

Wisata yang berkembang membutuhkan promosi. Promosi membutuhkan cerita. Cerita membutuhkan manusia yang memahami apa yang hendak disampaikan.

Karena itu, penguatan pengetahuan budaya, kemampuan bahasa, komunikasi publik, literasi digital, dan kreativitas generasi muda menjadi bagian penting dari pembangunan pariwisata.

Merangin memiliki modal berupa kekayaan alam dan budaya.

Tantangannya adalah bagaimana modal tersebut diterjemahkan menjadi daya tarik yang mampu bersaing.

Di sinilah generasi muda seperti Bujang Upik memiliki ruang untuk berkontribusi.

Mereka dapat menjadi penghubung antara potensi lokal dan perhatian global.

Mereka dapat membawa cerita Merangin keluar dari batas geografisnya.

Dan mereka dapat menunjukkan bahwa budaya lokal bukan sesuatu yang harus ditinggalkan ketika berbicara tentang dunia internasional.

Sebaliknya, identitas lokal justru dapat menjadi kekuatan untuk tampil di panggung global.

Malam Grand Final Bujang Upik Merangin 2026 pun akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang menjadi pemenang.

Lebih dari itu, malam tersebut menjadi titik awal bagi para generasi muda terpilih untuk membawa satu tugas besar: membuat Merangin semakin dikenal, dihargai, dan dikunjungi melalui kekuatan budaya dan pariwisatanya.

Hadir mendampingi Sekda Zulhifni dalam kegiatan tersebut antara lain Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Misrinadi, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Suherman, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Ahmad Khoirudin, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Sri Rezeki, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

(Mansurdin)