Iklan

Bukan Sekadar Wisuda, 1.463 Lulusan UIN STS Jambi Membawa Pulang Amanah untuk Masa Depan

Ketahuilah.com | Jambi  - Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar toga, ijazah, dan deretan nama yang dipanggil ke panggung wisuda.

Di balik suasana khidmat Sidang Senat Terbuka Wisuda Periode II Tahun 2026 Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, terdapat ribuan cerita tentang perjuangan, doa orang tua, ketekunan mahasiswa, serta harapan yang kini perlahan dilepas menuju kehidupan yang sesungguhnya.

Sebanyak 1.463 wisudawan menuntaskan perjalanan akademiknya pada periode ini. Mereka berasal dari tujuh fakultas dan Program Pascasarjana UIN STS Jambi.

Wisuda Periode II Tahun 2026 sekaligus menjadi catatan penting perjalanan akademik kampus: Wisuda Sarjana ke-72, Magister ke-45, dan Doktor ke-21.

Pada Minggu, 23 Agustus 2026, suasana Auditorium Chatib Quzwain UIN STS Jambi kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harapan. Pada sesi kedua, sebanyak 790 wisudawan mengikuti prosesi.

Mereka datang dari berbagai latar belakang akademik. Sebanyak 143 lulusan berasal dari Program Pascasarjana, 594 lulusan dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, dan 53 lulusan dari Fakultas Dakwah.

Namun, angka-angka itu sesungguhnya hanya menggambarkan bagian paling sederhana dari sebuah perjalanan panjang.

Di balik 790 nama yang diwisuda hari itu, ada keluarga yang menunggu, orang tua yang mungkin bertahun-tahun menyisihkan penghasilan, ada doa yang tidak pernah putus, dan ada mahasiswa yang melewati berbagai tantangan hingga akhirnya mengenakan toga.

Ketika Kampus Mengembalikan Anak kepada Keluarga

Pesan Rektor UIN STS Jambi Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd. pada momentum tersebut terasa lebih personal daripada sekadar sambutan seremonial.

Ia tidak hanya berbicara tentang capaian universitas. Ia mengajak para lulusan kembali mengingat satu hal yang sering terlupakan ketika seseorang mulai mengejar masa depan: orang tua.

“Jangan lupakan doa untuk orang tua,” pesan Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M. Pd kepada para wisudawan.

Kalimat tersebut menjadi salah satu pesan paling penting dalam prosesi wisuda.

Sebab, bagi Rektor, keberhasilan akademik bukanlah hasil perjuangan seorang mahasiswa seorang diri. Ada keluarga yang mengiringi perjalanan tersebut dengan doa, dukungan, pengorbanan, bahkan dalam banyak keadaan harus menunggu dengan sabar ketika anaknya menghadapi kesulitan.

Karena itu, Rektor meminta para lulusan tetap menghormati dan berterima kasih kepada kedua orang tua.

Bagi mereka yang masih memiliki orang tua, jangan berhenti meminta doa. Sementara bagi wisudawan yang orang tuanya telah meninggal dunia, hubungan itu tidak berhenti.

Doa seorang anak, pesan Rektor, tetap menjadi bentuk bakti yang dapat terus diberikan kepada orang tua.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa setelah toga dilepas, kehidupan akan membawa para lulusan ke ruang yang jauh lebih luas. Di sana, ukuran keberhasilan tidak lagi semata-mata IPK, melainkan bagaimana ilmu yang diperoleh mampu memberi manfaat.

“Kami mengembalikan putra-putri Bapak dan Ibu kepada keluarga dan masyarakat,” ujar Kasful Anwar.

Kalimat itu menjadi simbol penting.

Kampus pada akhirnya bukan tempat untuk menahan seseorang selama mungkin. Kampus adalah ruang untuk membentuk manusia sebelum mereka kembali ke tengah masyarakat dengan membawa pengetahuan, nilai, tanggung jawab, dan pengalaman.

Empat Nama, Empat Cerita Keunggulan

Di antara ratusan wisudawan, sejumlah nama mendapat penghargaan sebagai mahasiswa terbaik.

Dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Izzati Putri Zahra, S.Pd. menjadi mahasiswa terbaik dengan IPK 3,98 dan predikat Magna Cumlaude.

Dari Fakultas Dakwah, Tarik Andika, S.Sos. mencatat IPK 3,97 dengan predikat Magna Cumlaude.

Pada jenjang Magister Program Pascasarjana, prestasi terbaik diraih Rona Afriliani, M.E. dengan IPK 3,85 dan predikat Magna Cumlaude.

Sementara itu, pada jenjang Doktor, penghargaan mahasiswa terbaik diberikan kepada Dr. Muhammad Munawir Pohan yang meraih IPK 3,90 dengan predikat Cumlaude.

Empat nama tersebut menjadi representasi dari capaian akademik yang lahir dari proses panjang.

Namun, makna penghargaan itu tidak berhenti pada angka.

IPK 3,98, 3,97, 3,85, maupun 3,90 bukan sekadar deretan angka dalam transkrip akademik. Ia menjadi rekam jejak dari disiplin, ketekunan, kemampuan bertahan, dan kesungguhan menyelesaikan pendidikan.

Di sisi lain, wisuda juga mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu harus diukur melalui siapa yang mendapatkan predikat terbaik.

Setiap lulusan memiliki perjuangannya sendiri.

Ada yang menyelesaikan pendidikan dengan berbagai keterbatasan. Ada yang harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. Ada yang menempuh perjalanan panjang dari daerah. Ada pula yang berhasil bertahan ketika berbagai keadaan memaksanya hampir menyerah.

Karena itu, ketika nama-nama tersebut dipanggil satu per satu, sesungguhnya yang dirayakan bukan hanya kelulusan. Yang dirayakan adalah perjuangan.

Di Balik Wisuda, Ada Kampus yang Terus Berbenah

Di tengah suasana haru tersebut, Rektor juga membawa pesan tentang perjalanan institusi.

UIN STS Jambi, kata Kasful Anwar, terus melakukan pembenahan dan penguatan kelembagaan.

Upaya tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem akademik yang semakin kuat sekaligus meningkatkan mutu lulusan secara berkelanjutan.

Kami terus melakukan pembenahan dan penguatan kelembagaan,” ujarnya.

Capaian tersebut tercermin dari diraihnya akreditasi perguruan tinggi dengan predikat Unggul.

UIN STS Jambi juga kini memiliki 30 guru besar. Di bidang publikasi ilmiah, universitas terus mendorong jurnal-jurnal akademiknya menuju reputasi internasional. Dua jurnal UIN STS Jambi, menurut Rektor, segera diarahkan untuk terindeks Scopus.

Pada saat yang sama, universitas terus mengembangkan program studi untuk memperluas akses pendidikan. Saat ini terdapat 55 program studi, termasuk tiga program studi baru pada jenjang sarjana dan dua program studi baru pada jenjang magister.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa wisuda bukan hanya tentang jumlah mahasiswa yang berhasil menyelesaikan studi.

Ada tanggung jawab institusional yang jauh lebih besar: memastikan lulusan yang dilepas ke masyarakat benar-benar memiliki bekal akademik dan kompetensi yang memadai.

Pemerintah Provinsi: Lulusan Adalah Aset Daerah

Pesan serupa datang dari Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani, M.Pd.I.

Hadir mewakili Gubernur Jambi, Abdullah Sani menyampaikan ucapan selamat kepada 790 wisudawan yang mengikuti prosesi sesi kedua.

Atas nama Pemerintah Provinsi Jambi, ia menilai wisuda tersebut merupakan momentum bersejarah bagi para lulusan sekaligus keluarga mereka.

Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan merupakan buah dari ketekunan dan kerja keras, yang tidak terlepas dari dukungan serta doa keluarga.

Abdullah Sani juga memberikan apresiasi kepada seluruh sivitas akademika UIN STS Jambi yang dinilainya terus berkontribusi dalam mencetak sumber daya manusia unggul dan berkualitas.

Pernyataan tersebut membawa makna yang lebih luas.

Setiap lulusan perguruan tinggi bukan hanya bagian dari statistik pendidikan. Mereka merupakan potensi sumber daya manusia yang akan masuk ke berbagai ruang kehidupan: birokrasi, pendidikan, dunia usaha, industri, organisasi sosial, riset, maupun ruang pengabdian masyarakat.

Karena itu, kualitas lulusan pada akhirnya ikut menentukan kualitas masa depan daerah.

Setelah Toga Dilepas, Perjalanan Justru Dimulai

Wisuda sering dipahami sebagai akhir perjalanan akademik.

Padahal, bagi para lulusan, wisuda justru merupakan awal dari ujian yang sesungguhnya.

Di kampus, mahasiswa memiliki ruang untuk belajar, berdiskusi, melakukan penelitian, menerima koreksi, dan mencoba kembali ketika mengalami kegagalan.

Di masyarakat, ruang tersebut menjadi lebih luas dan tantangannya lebih kompleks.

Ijazah membuka pintu, tetapi kompetensi menentukan bagaimana seseorang mampu bertahan di balik pintu tersebut.

Ilmu pengetahuan menjadi bekal, tetapi integritas menentukan bagaimana ilmu itu digunakan.

Gelar menjadi identitas akademik, tetapi kontribusi menjadi ukuran kebermanfaatan.

Karena itu, pesan Rektor tentang orang tua menjadi relevan untuk dibawa dalam perjalanan berikutnya. Sebab semakin tinggi seseorang melangkah, semakin penting baginya untuk mengingat dari mana ia berasal dan siapa saja yang pernah menopang langkahnya.

1.463 Lulusan dan Satu Harapan

Sebanyak 1.463 lulusan kini meninggalkan ruang-ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan lingkungan akademik UIN STS Jambi.

Mereka membawa ijazah.

Tetapi lebih dari itu, mereka membawa nama almamater.

Mereka membawa harapan keluarga.

Dan mereka membawa tanggung jawab sosial.

Di sinilah makna sesungguhnya dari sebuah wisuda.

Universitas tidak sekadar melepas lulusan. Universitas menitipkan harapan kepada masyarakat melalui manusia-manusia yang telah ditempa selama bertahun-tahun.

Maka, keberhasilan Wisuda Periode II Tahun 2026 tidak seharusnya berhenti pada angka 1.463 lulusan.

Ukuran keberhasilannya kelak akan terlihat dari apa yang dilakukan para alumni setelah meninggalkan kampus.

Berapa banyak yang mampu menciptakan lapangan kerja, bukan hanya mencari pekerjaan. Berapa banyak yang mengabdikan ilmu untuk masyarakat. Berapa banyak yang menjaga integritas ketika berhadapan dengan godaan kekuasaan dan kepentingan. Berapa banyak yang membawa nama baik almamater melalui karya nyata.

Sebab pada akhirnya, wisuda bukan tentang siapa yang paling tinggi nilainya, melainkan tentang seberapa tinggi nilai ilmu itu ketika kembali kepada masyarakat.

Dan ketika satu per satu toga dilepas, perjalanan baru pun dimulai.

Bukan lagi sebagai mahasiswa.

Melainkan sebagai manusia terdidik yang dituntut membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh di kampus benar-benar mampu menjadi cahaya bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.