Ketahuilah.com | Muaro Jambi - Pagi baru saja menyibak kabut tipis yang menyelimuti tepian Sungai Batanghari. Embun masih menggantung di dedaunan, sementara sinar matahari perlahan menembus rimbunnya pepohonan yang menaungi hamparan bata merah berusia lebih dari seribu tahun. Di tengah kesunyian itu, Kompleks Percandian Muaro Jambi berdiri tanpa banyak suara, tetapi menyimpan kisah yang jauh lebih lantang dari pada deru zaman.
Bagi sebagian orang, tempat ini hanyalah destinasi wisata sejarah. Namun bagi para arkeolog, sejarawan, dan masyarakat Jambi, Muaro Jambi adalah lembaran penting dalam perjalanan panjang peradaban Nusantara. Ia bukan sekadar kumpulan candi tua, melainkan sebuah kota kuno yang pernah menjadi pusat pendidikan, keagamaan, perdagangan, dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara.
Terletak sekitar 26 kilometer dari Kota Jambi, kompleks percandian ini membentang mengikuti aliran Sungai Batanghari sepanjang sekitar 7,5 kilometer. Dengan luas mencapai hampir 4.000 hektare, Muaro Jambi merupakan kompleks percandian terluas di Asia Tenggara—bahkan jauh melampaui luas kawasan Candi Borobudur. Di balik hamparan hutan dan kebun masyarakat, tersimpan ratusan struktur kuno yang hingga kini belum seluruhnya berhasil diungkap oleh para peneliti.
Sejarah memperkirakan kawasan ini berkembang antara abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi, pada masa kejayaan Kerajaan Melayu dan Sriwijaya. Letaknya yang strategis di jalur Sungai Batanghari menjadikan Muaro Jambi sebagai simpul penting perdagangan internasional. Kapal-kapal dari India, Tiongkok, hingga kawasan Asia lainnya diperkirakan pernah singgah di wilayah ini, membawa rempah-rempah, keramik, kain sutra, sekaligus pertukaran gagasan dan pengetahuan.
Namun kejayaan Muaro Jambi tidak hanya lahir dari aktivitas perdagangan.
Di sinilah ilmu pengetahuan berkembang. Berbagai temuan arkeologi menunjukkan bahwa kawasan ini merupakan salah satu pusat pembelajaran agama Buddha terbesar di Asia pada masanya. Para biksu dan pelajar datang untuk memperdalam ajaran, berdiskusi, hingga menyalin naskah-naskah keagamaan. Dalam banyak catatan sejarah, Muaro Jambi diyakini memiliki fungsi yang serupa dengan pusat pendidikan Buddhis terkenal seperti Nalanda di India, menjadikannya salah satu mercusuar intelektual dunia Timur.
Keistimewaan Muaro Jambi semakin terlihat ketika para arkeolog menelusuri tata ruang kawasan tersebut. Situs ini tidak dibangun sebagai kumpulan candi yang berdiri sendiri. Sebaliknya, ia dirancang layaknya sebuah kota. Kanal-kanal kuno menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lainnya, parit mengatur sistem drainase, sementara kolam-kolam dan jalur air menunjukkan bahwa masyarakat masa itu telah memahami teknik pengelolaan lingkungan yang maju.
Hingga kini, para peneliti telah mengidentifikasi lebih dari seratus struktur bangunan serta puluhan menapo gundukan tanah yang diyakini masih menyimpan bangunan bata kuno. Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kedaton, Candi Kembar Batu, Gedong I, dan Gedong II hanyalah sebagian kecil dari kekayaan arkeologi yang telah berhasil dipugar. Selebihnya masih terpendam, menunggu waktu untuk kembali menceritakan sejarahnya.
Di balik fakta-fakta arkeologis tersebut, masyarakat sekitar tetap menjaga kisah-kisah yang diwariskan secara turun-temurun. Ada cerita tentang Air Penirtaan yang dipercaya membawa keberkahan. Ada pula mitos yang menyebut pasangan yang datang bersama ke kawasan candi akan sulit mempertahankan hubungan mereka. Terlepas dari benar atau tidaknya, cerita-cerita itu menunjukkan bahwa Candi Muaro Jambi bukan hanya hidup dalam buku sejarah, tetapi juga dalam ingatan kolektif masyarakat yang telah berabad-abad berdampingan dengannya.
Kini, Candi Muaro Jambi memasuki babak baru. Pemerintah bersama para akademisi terus melakukan konservasi, penelitian, dan pemugaran agar situs ini tetap lestari. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan panjang menjadikan Muaro Jambi sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO—sebuah pengakuan yang akan menempatkan warisan budaya Jambi sejajar dengan situs-situs bersejarah paling penting di dunia.
Namun, pengakuan internasional bukanlah tujuan akhir.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat Indonesia mengenali dan mencintai warisan sejarahnya sendiri. Sebab, setiap bata yang tersusun di Muaro Jambi bukan sekadar material bangunan. Ia adalah jejak kecerdasan, spiritualitas, dan kemampuan leluhur Nusantara membangun sebuah peradaban yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan, perdagangan, dan hubungan antarbangsa.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Candi Muaro Jambi mengingatkan bahwa kemajuan bukanlah sesuatu yang baru bagi bangsa ini. Lebih dari seribu tahun lalu, di tepian Batanghari, sebuah peradaban besar telah tumbuh dan menerangi kawasan Asia. Kini, tugas generasi masa kini bukan hanya mengaguminya, tetapi juga menjaga agar kisah besar itu tidak pernah hilang ditelan waktu.
Karena sejarah yang tidak dirawat, pada akhirnya hanya akan menjadi reruntuhan. Tetapi sejarah yang dipelajari dan dijaga akan selalu menjadi cahaya bagi masa depan.
