Warisan Intelektual KH. Abdurrahman Wahid bagi NU, Indonesia, dan Peradaban Dunia
Oleh: Dr. Pahmi Sy, S.Ag., M.Si.
(Warek II UIN STS Jambi)
Pendahuluan
Ketahuilah.com | Opini - Muktamar NU ke-35 di Jombang yang dibuka langsung oleh Presiden Prabowo Subianto tentu lahir tidak berdiri sendiri, sebab ia terkait dengan perjalanan sejarah yang panjang dan memiliki pemikir-pemikir besar dengan landasan yang kuat, yaitu Islam dan Indonesia.
Kehadiran pemikir dan tokoh besar selalu hadir dalam setiap dekade sejarahnya. Mulai dari awal 1926, pendirinya sendiri Hadratusyech KH. Hasyim As'ari, KH. Wahid Hasyim, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syamsuri, KH. Ahmad Siddiq, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Ali Yafei, KH. Mustofa Bisri, KH. Said Agil Siroj dan lainnya.
Kesemuanya berkhidmat dan menelorkan pemikiran-pemikiran terbaik untuk Indonesia dan umat Islam. Gagasan-gagasan mereka terekam dalam sejarah Indonesia, khususnya NU.
Dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU), para kiai tersebut telah melahirkan gagasan besar yang membentuk wajah Islam Indonesia. Namun, di antara tokoh-tokoh tersebut, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menempati posisi yang sangat istimewa. Ia bukan hanya ulama dan Ketua Umum PBNU, tetapi juga seorang intelektual, budayawan, negarawan, dan pembela kemanusiaan yang pemikirannya melampaui zamannya.
Gus Dur berhasil menjadikan NU sebagai kekuatan moral yang mampu berdialog dengan demokrasi, kebudayaan, hak asasi manusia, dan kemajemukan bangsa. Karena itu, banyak kalangan menyebutnya sebagai salah satu pemikir terbesar NU sepanjang sejarah.
Gus Dur dan Tradisi Intelektual NU
Gus Dur lahir dari tradisi pesantren yang kuat. Sebagai cucu Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari dan putra KH. Wahid Hasyim, ia mewarisi khazanah keilmuan klasik sekaligus membuka diri terhadap pemikiran modern.
Baginya, NU harus tetap berpegang pada Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi mampu menjawab tantangan zaman dengan ijtihad dan dialog.
Konsep Pribumisasi Islam menjadi salah satu gagasan monumental Gus Dur. Islam, menurutnya, tidak harus menghapus budaya lokal, melainkan membimbing dan memuliakan budaya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Beberapa Warisan Besar Pemikiran Gus Dur
Pertama, Islam yang Ramah dan Humanis, menempatkan kemanusiaan sebagai nilai utama.
Kedua, Demokrasi dan Kebebasan, memperjuangkan ruang bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi.
Ketiga, Pluralisme dan Toleransi, menjaga Indonesia sebagai bangsa yang majemuk.
Keempat, Penguatan Pesantren, menjadikan pesantren pusat pemberdayaan masyarakat.
Kelima, NU sebagai Gerakan Peradaban, bukan sekadar organisasi keagamaan, tetapi penggerak perubahan sosial.
Keenam, Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam.
Relevansi bagi Muktamar NU ke-35
Muktamar NU ke-35 di Jombang menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat pemikiran Gus Dur. Di tengah era digital, krisis lingkungan, dan tantangan global, NU memerlukan keberanian berpikir, keterbukaan, dan komitmen pada kemaslahatan umat sebagaimana diwariskan Gus Dur.
Penutup
Gus Dur adalah tidak hanya pemikir besar NU, tapi Indonesia dan bahkan dunia karena mampu menghubungkan tradisi dengan modernitas, agama dengan kemanusiaan, dan keislaman dengan keindonesiaan.
Warisan intelektualnya tetap relevan untuk membawa NU memasuki abad kedua sebagai organisasi yang berilmu, berakhlak, dan berdampak bagi dunia.
Wassalam.
