Iklan

Ketika Kecelakaan Mengubah Segalanya, Arip Tetap Berjuang hingga Yudisium

Ketahuilah.com | Nasional - Ada perjalanan yang tidak selalu mudah diceritakan. Ada pula perjuangan yang tidak terlihat dari sekadar angka di transkrip akademik. Bagi Arip, S.Si., mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, perjalanan menuju kelulusan adalah kisah panjang tentang kehilangan kondisi fisik yang sebelumnya normal, bangkit dari keterpurukan, dan memilih untuk terus melangkah.

Sebelum menyandang status sebagai penyandang disabilitas, Arip menjalani kehidupan dan perkuliahan seperti mahasiswa pada umumnya. Tidak ada yang menyangka bahwa sebuah kecelakaan pada 2020 akan mengubah perjalanan hidupnya.

Poto Yudisium Fakultas Adab dan Humaniora
UIN STS Jambi 13 Agustus 2026

Saat itu, Arip mengalami kecelakaan sepeda motor setelah ditabrak oleh sesama mahasiswa. Pengendara yang menabraknya baik-baik saja, sementara Arip mengalami sejumlah cedera serius. Ia bahkan tidak sadarkan diri atau koma selama kurang lebih 14 hari dan harus menjalani perawatan di rumah sakit selama sekitar 40 hari.

Namun, perjuangan sesungguhnya justru dimulai setelah ia keluar dari masa kritis.

Bagian kiri tubuh Arip, mulai dari kepala hingga kaki, mengalami kelemahan. Kondisi tersebut membuat banyak orang mengira dirinya mengalami patah tulang. Namun, kondisi yang dialaminya ternyata berkaitan dengan gangguan saraf sebagai dampak dari operasi pada bagian kiri kepalanya.

Bagi seseorang yang sebelumnya berada dalam kondisi sehat, perubahan tersebut tentu bukan sesuatu yang mudah diterima.

Tubuh yang dahulu dapat bergerak secara normal kini membutuhkan penyesuaian. Aktivitas yang sebelumnya sederhana harus dilakukan dengan perjuangan yang berbeda. Di tengah perubahan besar tersebut, Arip masih menyimpan satu keinginan: menyelesaikan kuliah yang telah ia mulai.

Bahkan ketika baru sadar setelah koma, pertanyaan pertama yang muncul dari dirinya bukan tentang hal lain.

“Hal yang pertama saya tanyakan waktu itu adalah bagaimana kuliah saya,” kenangnya.

Pertanyaan itu menjadi gambaran betapa kuat keinginannya untuk kembali melanjutkan pendidikan.

Dengan dukungan keluarga dan orang-orang terdekat, Arip perlahan menjalani proses pemulihan. Keluarganya tidak hanya merawat dan membimbing, tetapi juga membantu berkomunikasi dengan pihak kampus mengenai kondisi yang dialaminya.

Di UIN STS Jambi, Arip tidak berjalan sendirian.

Pihak program studi, fakultas, hingga pimpinan universitas memberikan perhatian terhadap kondisi yang dihadapinya. Dukungan tersebut membuat Arip memiliki ruang untuk tetap menjalani pendidikan meskipun dengan berbagai keterbatasan.

Kehadiran Pusat Gender, Anak dan Disabilitas (PGAD) UIN STS Jambi juga menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya. Pendampingan dan perhatian yang diberikan membuat Arip merasa bahwa keterbatasan tidak menjadi alasan untuk kehilangan kesempatan dalam memperoleh pendidikan.

“Saya sadar dengan keadaan dan keterbatasan saya. Namun, saya tetap semangat dan ingin seperti yang lain, bisa menyelesaikan apa yang telah saya mulai,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi gambaran sederhana tentang prinsip yang dipegang Arip selama menjalani perjalanan panjang tersebut.

Ia tidak meminta perjalanan yang mudah. Ia hanya ingin diberi kesempatan untuk menyelesaikan apa yang telah dimulainya.

Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil.

Pada 17 Juni 2026, Arip mengikuti sidang skripsi. Tahap tersebut menjadi salah satu momen penting setelah bertahun-tahun menjalani perjalanan akademik dengan kondisi yang telah berubah.

Tidak berhenti sampai di sana. Pada 13 Agustus 2026, Arip mengikuti yudisium dan resmi menyelesaikan perjalanan akademiknya dengan IPK 3,25 serta predikat sangat memuaskan.

Bagi sebagian orang, angka 3,25 mungkin hanya tercantum dalam lembar hasil studi. Namun bagi Arip, angka tersebut menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, kesabaran, dukungan keluarga, serta orang-orang yang tidak membiarkannya berjalan sendirian.

Yudisium 13 Agustus 2026 menjadi lebih dari sekadar seremoni akademik. Itu adalah titik yang menandai keberhasilan Arip melewati fase kehidupan yang tidak pernah ia rencanakan.

Dari seorang mahasiswa yang mengalami kecelakaan, menjalani koma selama kurang lebih 14 hari, dirawat selama sekitar 40 hari, kemudian harus beradaptasi dengan kondisi disabilitas, hingga akhirnya berdiri di titik kelulusan.

Arip menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan selama perjalanan tersebut.

“Terima kasih banyak kepada seluruh pihak yang telah memudahkan urusan saya dalam menyelesaikan studi ini. Kami menyadari kami tidak mampu membalas semua kebaikan Bapak dan Ibu semua. Semoga Allah Yang Maha Kuasa yang membalas kebaikan Bapak dan Ibu semua,” tuturnya.

Kisah Arip memperlihatkan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang kemampuan akademik. Di balik sebuah gelar terdapat perjuangan yang panjang, termasuk perjuangan untuk bangkit ketika kehidupan berubah secara tiba-tiba.

Kecelakaan pada 2020 mengubah sebagian besar kehidupan Arip. Namun, kecelakaan itu tidak berhasil mengubah satu hal yang paling penting: keinginannya untuk menyelesaikan pendidikan.

Kini, perjalanan tersebut telah sampai pada sebuah titik penting. Arip bukan lagi hanya mahasiswa yang berjuang mempertahankan kuliahnya setelah kecelakaan. Ia telah menyelesaikan studinya dengan predikat sangat memuaskan.

Sebuah bukti bahwa keterbatasan mungkin mengubah cara seseorang berjalan, tetapi tidak harus menghentikan langkahnya menuju cita-cita.