Jambinews.id | Jakarta - Perguruan tinggi hari ini tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik. Tantangan dunia kerja dan perubahan kebutuhan global menuntut kampus membangun ekosistem yang mampu menghubungkan mahasiswa, alumni, dunia industri, pemerintah, serta mitra nasional dan internasional.
Gagasan tersebut menjadi perhatian Prof. Dr. H. Lukman Hakim, S.Ag., M.Pd.I., Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, dalam persiapannya sebagai pembicara nasional pada Temu Nasional Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama se-Indonesia yang akan berlangsung di Hotel Blue Sky Balikpapan.
Mengangkat tema “Potensi Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama”, Prof. Lukman menyoroti pentingnya melihat ketiga bidang tersebut sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan.
Menurutnya, terdapat tiga fondasi yang perlu diperkuat untuk memaksimalkan potensi tersebut, yakni regulasi yang adaptif, internasionalisasi kurikulum, serta digitalisasi sistem pelacakan alumni.
“Sinergi regulasi adaptif, internasionalisasi kurikulum, dan digitalisasi pelacakan alumni adalah kunci utama untuk menangkap peluang besar sekaligus menjawab tantangan global saat ini,” ujarnya.
Mahasiswa dan Tantangan Kompetensi Abad ke-21
Menurut Prof. Lukman, bidang kemahasiswaan memiliki peluang besar seiring tingginya minat generasi muda terhadap pendidikan Islam modern serta semakin terbukanya ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh rekognisi prestasi di tingkat nasional maupun internasional.
Namun, peluang tersebut berjalan beriringan dengan tantangan.
Kebutuhan dunia kerja terus mengalami perubahan. Lulusan tidak hanya dituntut menguasai kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, literasi digital, kepemimpinan dan kemampuan beradaptasi.
Karena itu, penguatan bidang kemahasiswaan perlu diarahkan pada penyediaan ruang pengembangan bakat, penalaran dan peningkatan kualitas organisasi mahasiswa.
Bagi Prof. Lukman, organisasi mahasiswa bukan sekadar aktivitas pendukung kehidupan kampus. Jika dikelola secara baik, ormawa dapat menjadi ruang pembentukan kepemimpinan, komunikasi, kerja sama tim dan kemampuan mengambil keputusan.
Alumni sebagai Modal Sosial
Persoalan berikutnya adalah bagaimana perguruan tinggi memanfaatkan kekuatan alumni.
Jaringan alumni yang tersebar di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, pemerintahan hingga dunia swasta, menurut Prof. Lukman merupakan modal sosial yang dapat dikembangkan untuk memperkuat institusi.
Persoalannya, jaringan tersebut membutuhkan sistem yang terintegrasi.
Salah satu tantangan yang perlu dijawab adalah belum optimalnya sistem pelacakan alumni atau tracer study secara real-time. Data alumni bukan hanya diperlukan untuk mengetahui keberadaan dan pekerjaan lulusan, tetapi juga dapat digunakan sebagai bahan evaluasi kurikulum.
Karena itu, ia mendorong penguatan Career Development Center (CDC) serta program pemberdayaan alumni muda melalui dukungan alumni yang lebih senior.
Dengan sistem tersebut, alumni tidak hanya menjadi data dalam dokumen institusi, tetapi dapat menjadi bagian dari ekosistem pengembangan mahasiswa dan perguruan tinggi.
Kerja Sama Jangan Berhenti di Atas Kertas
Di bidang kerja sama, Prof. Lukman melihat peluang yang semakin terbuka, baik pada tingkat nasional maupun internasional.
Pendanaan riset internasional, program pertukaran mahasiswa, joint research hingga mobilitas akademik dapat menjadi ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh pengalaman lintas negara.
Namun, kerja sama juga memiliki tantangan tersendiri.
Hambatan bahasa, proses legalitas seperti MoU dan MoA, serta keberlanjutan program setelah penandatanganan kerja sama menjadi sejumlah persoalan yang perlu dikelola.
Karena itu, menurut Prof. Lukman, diperlukan unit khusus internasionalisasi di tingkat fakultas yang tidak berhenti pada urusan administrasi, tetapi bertugas mengawal implementasi kerja sama hingga menghasilkan program yang nyata.
Kerja Sama dan Akreditasi
Penguatan kemahasiswaan, alumni dan kerja sama juga memiliki keterkaitan dengan peningkatan mutu dan akreditasi perguruan tinggi.
Prof. Lukman mendorong agar program kolaborasi tidak hanya diarahkan pada penandatanganan dokumen kerja sama, tetapi menghasilkan aktivitas yang dapat dirasakan mahasiswa dan dosen.
Sejumlah program yang dapat dikembangkan antara lain mobilitas internasional melalui credit transfer, magang internasional di sekolah luar negeri dan KKN internasional.
Di bidang riset, kolaborasi antara dosen dan mahasiswa dengan mitra global dapat diarahkan pada penerbitan karya ilmiah bersama.
Sementara pada kurikulum, kerja sama nasional dan internasional dapat diintegrasikan dengan program pembelajaran berbasis pengalaman, termasuk skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
FTK UIN STS Jambi dan Praktik di Lapangan
Gagasan tersebut bukan semata konsep. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN STS Jambi telah menjalankan sejumlah program yang berkaitan dengan penguatan mutu, kemahasiswaan dan kerja sama.
Salah satunya melalui penguatan mutu berbasis regulasi dan pendampingan penyusunan Laporan Evaluasi Diri (LED) serta Data Kinerja Program Studi (DKPS).
Prof. Lukman menyebut sejumlah program studi di lingkungan FTK telah meraih predikat Akreditasi Unggul dari LAMDIK maupun BAN-PT, antara lain Tadris Bahasa Inggris, Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Tadris Matematika dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).
Menurutnya, perubahan sistem akreditasi perlu dipahami bukan hanya sebagai perubahan administratif, tetapi sebagai momentum untuk menunjukkan mutu institusi secara nyata dan berkelanjutan.
Tantangannya adalah memastikan akreditasi tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan menjadi budaya penjaminan mutu yang hadir dalam aktivitas sehari-hari mahasiswa dan dosen.
Jejaring Nasional hingga Internasional
Dalam pengembangan kerja sama nasional, FTK UIN STS Jambi juga membangun kemitraan dengan pemerintah daerah dan lembaga pendidikan.
Di antaranya melalui kerja sama Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) FTK dengan pemerintah daerah, termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Kabupaten Bungo untuk mendukung pelaksanaan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Jejaring juga diperluas melalui kerja sama dengan sekolah di luar Provinsi Jambi, termasuk sekolah menengah di Batam untuk mendukung lokus Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), riset pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
Di sektor lain, kerja sama dengan lembaga seperti Muamalat Institute diarahkan pada penguatan literasi keuangan syariah dan kompetensi tambahan bagi mahasiswa.
Sementara pada level internasional, FTK diarahkan untuk memperkuat program visiting lecturer, seminar internasional, pertukaran akademisi dan kolaborasi riset.
Mahasiswa tingkat akhir dan dosen juga didorong untuk terlibat dalam riset bersama serta publikasi ilmiah dengan mitra global.
Menghubungkan Mahasiswa, Alumni dan Industri
Pada akhirnya, seluruh gagasan tersebut bermuara pada satu kebutuhan: membangun ekosistem pendidikan yang tidak terputus antara kampus dan dunia setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan.
Mahasiswa perlu diberi ruang untuk berprestasi dan mengembangkan kemampuan. Alumni perlu dilibatkan sebagai jaringan dan sumber pengalaman. Dunia kerja dan industri perlu menjadi mitra yang memberikan ruang praktik sekaligus umpan balik terhadap kompetensi lulusan.
Pemerintah memiliki peran melalui regulasi, dukungan program dan akses kemitraan. Sementara pimpinan lembaga perlu memastikan dukungan anggaran, penyederhanaan birokrasi kerja sama serta insentif bagi mahasiswa dan dosen yang berprestasi.
Dengan ekosistem tersebut, FTK UIN STS Jambi diarahkan untuk melahirkan lulusan yang memiliki daya saing global sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman.
Bukan hanya menghasilkan lulusan yang terserap dunia kerja, tetapi juga membangun hubungan yang terus hidup antara mahasiswa, alumni, perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat dan dunia industri.
Bagi Prof. Lukman, di situlah potensi kemahasiswaan, alumni dan kerja sama menemukan maknanya: bukan berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi satu ekosistem yang saling memperkuat untuk membawa institusi dan lulusannya menghadapi perubahan zaman.
