Ketahuilah.com | Jambi - Terpilihnya Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., sebagai Presiden pertama The International Assembly of Mosque Imams (IAMI) membuka babak baru bagi peran Indonesia dalam percakapan keagamaan di tingkat global.
Bagi Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd., kepercayaan tersebut bukan sekadar penghormatan kepada seorang tokoh agama Indonesia. Lebih dari itu, terpilihnya Prof. Nasaruddin Umar dinilai menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi Indonesia dalam membangun kehidupan keagamaan yang moderat, inklusif, serta berorientasi pada perdamaian dan kemanusiaan.
“Kami keluarga besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi turut bangga dan sangat mengapresiasi setinggi-tingginya, sekaligus menyampaikan selamat atas terpilihnya Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. sebagai Presiden pertama IAMI. Ini merupakan amanah besar dan sekaligus kepercayaan masyarakat internasional kepada Indonesia melalui sosok beliau,” ujar Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd.
IAMI dibentuk dalam rangkaian International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 25–27 September 2026. Forum internasional tersebut mempertemukan para imam besar dan pemimpin keagamaan dari berbagai negara untuk membahas posisi strategis masjid dalam merespons berbagai persoalan dunia, mulai dari konflik dan kemanusiaan hingga lingkungan, perkembangan teknologi dan tantangan sosial.
Menurut Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd., kepemimpinan Prof. Nasaruddin Umar di IAMI juga memperlihatkan semakin terbukanya ruang bagi pengalaman keberagamaan Indonesia untuk berkontribusi dalam wacana global. Indonesia, dengan masyarakatnya yang majemuk, memiliki pengalaman dalam mengembangkan kehidupan Islam yang mengedepankan moderasi, dialog dan penghormatan terhadap keberagaman.
“Indonesia memiliki pengalaman yang sangat kaya dalam mengelola kehidupan masyarakat yang majemuk. Islam Indonesia yang moderat, ramah, inklusif dan mengedepankan dialog merupakan modal penting untuk ikut membangun perdamaian dunia,” katanya.
Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, peran masjid menurut Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd., juga perlu diperluas. Masjid tidak hanya dipandang sebagai ruang ibadah ritual, tetapi dapat berkembang menjadi pusat pendidikan, pemberdayaan masyarakat, penguatan karakter, solidaritas sosial hingga ruang dialog dalam menyelesaikan persoalan kemanusiaan.
Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan yang berkembang dalam IGIC 2026, yang mendorong para imam untuk mengambil peran lebih besar dalam menghadapi persoalan masyarakat. Dalam konteks itu, IAMI dipandang dapat menjadi ruang pertemuan para imam dari berbagai negara untuk bertukar pengalaman, membangun kerja sama serta memperkuat dialog lintas agama dan budaya.
Lebih jauh, keberadaan IAMI juga membuka ruang bagi penguatan diplomasi keagamaan Indonesia. Pertemuan para imam dari berbagai belahan dunia dinilai dapat menjadi jembatan moral dalam menghadapi perbedaan, polarisasi sosial dan konflik yang terjadi di berbagai kawasan.
“Ketika para imam dari berbagai negara dapat duduk bersama, berdialog dan membangun kerja sama, saya kira ini akan menjadi kekuatan moral yang sangat besar bagi terciptanya perdamaian. Diplomasi keagamaan dapat menjadi jembatan ketika masyarakat dunia menghadapi berbagai perbedaan dan konflik,” ungkap Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd.
Bagi UIN STS Jambi, terbentuknya IAMI juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara organisasi internasional tersebut dengan perguruan tinggi Islam. Kampus dapat mengambil peran melalui riset, pendidikan, pengembangan pemikiran keislaman, penguatan sumber daya manusia, moderasi beragama hingga pemberdayaan masyarakat berbasis masjid.
“Kami melihat ada ruang kolaborasi yang sangat luas antara IAMI dan perguruan tinggi Islam. Kampus dapat memberikan kontribusi melalui penelitian, pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan berbagai kajian yang berkaitan dengan masjid, masyarakat, moderasi beragama, perdamaian, dan pembangunan peradaban,” ujar Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd.
Kepemimpinan Prof. Nasaruddin Umar di IAMI, pada akhirnya, membawa harapan agar masjid dan para imam tidak berhenti pada peran keagamaan yang bersifat ritual. Di tengah tantangan dunia yang semakin kompleks, masjid diharapkan mampu menjadi ruang yang menghadirkan pendidikan, solidaritas, pemberdayaan, dialog dan perdamaian.
Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd., pun menyampaikan doa agar amanah tersebut dapat dijalankan dengan baik. Ia berharap IAMI berkembang menjadi wadah internasional yang mampu mempertemukan para imam dunia sekaligus memperkuat persaudaraan kemanusiaan.
“Semoga IAMI dapat menjadi jembatan yang mempertemukan para imam dunia, memperkuat persaudaraan kemanusiaan, dan bersama-sama menghadirkan perdamaian serta kemaslahatan bagi masyarakat dunia,” pungkasnya.
Terpilihnya Prof. Nasaruddin Umar sebagai Presiden pertama IAMI merupakan salah satu hasil penting IGIC 2026. Forum tersebut juga menghasilkan Jakarta Understanding yang antara lain menekankan penguatan peran imam dalam perdamaian, perlindungan kelompok rentan, diplomasi keagamaan, kepedulian terhadap lingkungan serta penguatan kerja sama global.
