Ketahuilah.com - Jambi - Tim peneliti dari Fakultas Sains dan Teknologi penerima Hibah Dana Riset Indonesia Bangkit Kementerian Agama melalui program MoRA The AIR Funds bekerja sama dengan LPDP Kementerian Keuangan baru saja menyelesaikan penelitian lapangan di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas. Penelitian tersebut difokuskan pada eksplorasi tanaman obat tradisional yang digunakan masyarakat adat di wilayah penyangga taman nasional.
Kegiatan penelitian dilakukan di dua desa, yakni Desa Pematang Kabau dan Desa Bukit Suban. Kedua desa tersebut menjadi lokasi penting karena masih menyimpan kekayaan biodiversitas sekaligus pengetahuan tradisional masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dan tetap bertahan hingga saat ini.
Selama kegiatan lapangan berlangsung, tim peneliti melakukan wawancara bersama tujuh narasumber yang terdiri dari tokoh adat dan tokoh masyarakat Suku Anak Dalam. Dari hasil pengumpulan data tersebut, tim berhasil mengidentifikasi sedikitnya 11 spesies tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sebagai obat tradisional untuk mengatasi penyakit eksim dan gangguan kulit lainnya.
Beberapa jenis tumbuhan yang ditemukan bahkan dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut melalui penelitian ilmiah di bidang kesehatan dan farmasi. Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa kawasan hutan Jambi masih menyimpan sumber daya hayati yang berharga dan berpotensi mendukung pengembangan obat herbal berbasis bahan alam lokal.
Ketua tim peneliti, H. Arfan Aziz, M.Sos. Sc., Ph,D, menyampaikan bahwa penelitian ini tidak hanya bertujuan memperkaya khazanah ilmiah, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mendokumentasikan pengetahuan tradisional masyarakat adat yang selama ini diwariskan secara lisan. Selain itu, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan obat herbal berbasis sumber daya lokal yang berkelanjutan.
Setelah menyelesaikan penelitian di kawasan TN Bukit Dua Belas, tim peneliti dijadwalkan melanjutkan kerja lapangan ke kawasan konservasi lainnya di Provinsi Jambi, termasuk wilayah sekitar Taman Nasional Berbak. Penelitian lanjutan ini diharapkan mampu memperkuat pengembangan riset berbasis kearifan lokal serta mendukung pelestarian pengetahuan tradisional masyarakat adat di Indonesia.



