(Catatan atas Sidang Promosi Doktor H. Hayatul Islami)
Oleh: Dr. Pahmi Sy., S.Ag., M.Si (Wakil Rektor II UIN STS Jambi)
“Peran Prof. Dr. KH. Sulaiman Abdullah dalam Transformasi Sosial Keagamaan di Jambi Masa Orde Baru” merupakan judul disertasi yang ditulis oleh H. Hayatul Islami, dosen Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Sidang promosi doktor tersebut dilaksanakan pada Rabu, 17 Juni 2026, di Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang.
Prof. Dr. KH. Sulaiman Abdullah merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan Islam di Provinsi Jambi. Beliau dikenal sebagai ulama yang memiliki keluasan ilmu, terutama dalam bidang fikih dan ushul fikih. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai akademisi visioner dan pemimpin yang mendedikasikan hidupnya bagi kemajuan umat dan dunia pendidikan.
Prof. Dr. KH. Sulaiman Abdullah lahir di Desa Lubuk Ruso, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batang Hari, pada 30 September 1936 dan wafat pada 25 Januari 2016. Pendidikan dasarnya ditempuh di Madrasah dan Pesantren Nurul Iman Jambi Kota Seberang. Selanjutnya, beliau menempuh pendidikan tinggi di STAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dan Institut Administrasi Negara (LAN) Jakarta, kemudian melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor (S-3) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam perjalanan organisasinya, beliau pernah menjabat sebagai Ketua HMI Cabang Jambi, Ketua KNPI Kota Jambi, Ketua AMPI, Ketua DPRD Kota Jambi, serta aktif di Partai Golkar.
Karier profesionalnya dimulai sebagai pegawai pemerintah daerah, kemudian menjadi dosen Fakultas Syariah dan Direktur Pondok Pesantren PKP Al-Hidayah. Beliau juga pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi periode 1994–1998. Di bawah kepemimpinannya, kampus mengalami berbagai kemajuan yang menjadi fondasi penting bagi perkembangan institusi hingga bertransformasi menjadi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Beliau memiliki peran besar dalam pengembangan program pascasarjana dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan perguruan tinggi Islam. Untuk pertama kalinya, beliau membangun kerja sama dan jejaring pendidikan dengan berbagai perguruan tinggi di Malaysia dan negara-negara sekitarnya.
Kepribadian beliau yang sederhana, bijaksana, dan penuh keteladanan menjadikan Prof. Dr. KH. Sulaiman Abdullah sosok yang dicintai mahasiswa, dosen, dan masyarakat luas. Bagi beliau, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Warisan pemikiran dan pengabdiannya terus hidup dalam berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan yang pernah beliau bina. Generasi penerus diharapkan dapat meneladani semangat keilmuan, integritas, dan dedikasinya dalam membangun masyarakat yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.
Karya-karya intelektual beliau meliputi berbagai buku fikih dan ushul fikih yang digunakan sebagai bahan ajar. Selain itu, beliau juga menghasilkan berbagai artikel dan makalah tentang hukum, kepemimpinan, dan berbagai persoalan kemasyarakatan. Beliau mengajar di berbagai fakultas UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi hingga jenjang pascasarjana, serta pernah menjadi dosen tamu di Universitas Jambi (UNJA), Universitas Batanghari (UNBARI), APDN, dan beberapa institusi pendidikan di Malaysia.
Kecintaan beliau terhadap ilmu pengetahuan sangat besar. Bahkan ketika dalam kondisi sakit, beliau tetap mengajar dengan menerima mahasiswa di kediamannya. Penulis masih mengingat ketika menjadi wartawan kampus dan mewawancarai beliau setelah menjabat sebagai rektor. Saat itu beliau berpesan, “Tulislah dengan baik dan jangan menghilangkan jejak orang-orang yang berjasa terlebih dahulu.”
Selain berkiprah di dunia akademik, Prof. Dr. KH. Sulaiman Abdullah juga dikenal sebagai ulama yang aktif membimbing masyarakat. Melalui berbagai forum keagamaan, ceramah, dan kegiatan sosial, beliau senantiasa menanamkan nilai-nilai Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Selama sekitar dua dekade, beliau menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jambi. Peran tersebut semakin mengukuhkan posisinya sebagai tokoh yang dihormati dan menjadi rujukan dalam berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Beliau juga aktif di Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi dan turut memperkuat konsep “Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah.”
Pandangan, fatwa, serta pemikiran beliau sering menjadi rujukan dalam perumusan kebijakan publik yang berbasis pada nilai-nilai agama dan adat. Ketika H. Abdurrahman Sayoeti menjabat sebagai Gubernur Jambi, Prof. Dr. KH. Sulaiman Abdullah dipercaya menyusun konsep ceramah peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW yang disampaikan di Istana Negara pada masa Presiden Soeharto.
Dalam menyampaikan dakwah, beliau memiliki ciri khas menggunakan bahasa Melayu Jambi. Menurut beliau, dakwah akan lebih efektif apabila disampaikan dengan bahasa yang dipahami masyarakat setempat. Pendekatan ini membuat pesan dakwah lebih mudah diterima sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian kearifan lokal dan budaya daerah.
Sepanjang dekade 1980-an hingga 1990-an, beliau aktif menjawab berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Jambi setiap hari Jumat pagi. Selain itu, beliau juga rutin menjadi penceramah bersama KH. Lohot Hasibuan dalam berbagai kegiatan pemerintah daerah.
Masyarakat mengenalnya dengan berbagai sebutan, seperti Guru Leman, Kyai Leman, Pak Leman, atau Ndek Leman. Kesederhanaan menjadi ciri yang melekat pada dirinya. Meskipun memiliki banyak kesempatan untuk memperkaya diri, beliau tetap hidup sederhana dan menjaga integritas. Salah satu contoh yang sering dikenang adalah ketika beliau mengembalikan sisa dana pembangunan Pondok Pesantren PKP Al-Hidayah saat menjabat sebagai direktur pondok tersebut.
Di rumahnya, beliau sering terlihat mengenakan sarung sambil membaca kitab, buku, koran, atau mengajar santri. Aktivitas membaca dan menuntut ilmu seolah tidak pernah berhenti dalam kehidupannya. Pada waktu lain, beliau mengajar kitab kuning, berdiskusi mengenai hukum Islam, atau merenungkan berbagai persoalan keilmuan dan kemasyarakatan.
Prof. Dr. KH. Sulaiman Abdullah juga merupakan seorang aktivis organisasi sejak masa muda. Dalam suatu forum pengkaderan mahasiswa pada tahun 1994, beliau pernah menyampaikan bahwa seseorang harus mengetahui letak kekuatannya. Prinsip tersebut tampak dalam perjalanan politiknya. Beliau memanfaatkan jalur politik Orde Baru melalui Golongan Karya (Golkar) untuk memperjuangkan nilai-nilai agama, kemaslahatan, dan kepentingan masyarakat. Meskipun dekat dengan kekuasaan, beliau tidak larut di dalamnya. Kekuasaan dipandang sebagai sarana untuk memperjuangkan kebaikan dan melakukan pembenahan umat.
Dalam disertasinya tentang Guru Leman, H. Hayatul Islami menemukan sejumlah fakta menarik. Salah satunya adalah perpaduan antara intelektual, ulama, dan politisi dalam diri Prof. Dr. KH. Sulaiman Abdullah. Beliau memanfaatkan politik sebagai instrumen dakwah dan perjuangan umat, meskipun tetap dikenal sebagai tokoh yang loyal terhadap Golkar. Temuan lainnya menunjukkan bahwa masih banyak aspek pemikiran Guru Leman yang belum dikaji secara mendalam, seperti fatwa-fatwa hukum, pandangan politik, pemikiran sosial, dan pandangan adatnya.
Pada akhirnya, Prof. Dr. KH. Sulaiman Abdullah telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah pendidikan dan perkembangan Islam di Jambi. Namanya akan selalu dikenang sebagai ulama, akademisi, dan pemimpin yang mengabdikan hidupnya bagi kemajuan ilmu pengetahuan, agama, dan pembangunan bangsa.
Selamat kepada H. Hayatul Islami atas capaian akademiknya. Semoga penelitian ini semakin memperkaya khazanah keilmuan tentang tokoh-tokoh Islam Jambi. Al-Fatihah untuk Guru Leman. Semoga segala amal, ilmu, dan keteladanan beliau menjadi inspirasi sepanjang masa.



